Minggu, 20 April 2014

Experience Seoul, South Korea (HARI PERTAMA)

Sabtu, 12 Januari 2013

Pukul 7 pagi aku dan Dephie sudah berkumpul di Bandara Soekarno-Hatta Terminal 2F untuk keberangkatan menuju Singapura dengan menggunakan pesawat Jetstar yang take off pada pukkul 8.20 WIB. Kami sengaja memilih waktu keberangkatan pagi karena kami bisa melewatkan satu hari di Singapura.
Pukul 11.05 waktu Singapura, kami mendarat di Bandara Internasional Changi. Dikarenakan bukanlah trip pertama kami ke Singapura, jadi kami sama sekali tidak mendapatkan hambatan untuk mencari tempat penitipan koper yang ada di setiap terminal. Cukup cari sign LEFT BAGGAGE, dan kita akan dengan mudah menemukannya. Dengan membayar sebesar 4,28 dollar Singapura kami bisa menitipkan koper kami untuk waktu maksimal 24 jam sehingga kegiatan berkeliling Singapura tidak akan menyulitkan.

***CATATAN***
Untuk informasi mengenai tempat penitipan tas bisa dicek di sini

Tujuan pertama hari itu adalah menuju Orchard untuk makan siang. Menu makan siang kami adalah laksa di pinggiran jalan Orchard yang indah dan begitu luas untuk pejalan kaki. Seperti biasa, aku tidak begitu suka menu makanan di Singapura karena tidak memilki taste yang kuat seperti makanan Indonesia. Rasanya hambar dan minumannya juga terasa hambar. Laksa rasaya tidak enak dan aneh! Dan seperti biasa, si Dephie yang juga Miss Belanja ini langsung melancarkan aksinya berbelanja di toko-toko mahal di seputaran Orchard padahal kami masih belum menginjakkan kaki di Korea!

Dikarenakan beberapa bagian Orchard sedang dilaksanakan banyak pemugaran dan pembagungan gedung sehingga kami tidak begitu lama berada di sana. Setelah makan siang dan melakukan aktifitas jepret sana sini (aktifitas wajib bagi kami berdua) kami memutuskan untuk segera hengkang dari Orchard dan menuju Merlion Park.


tempat wajib untuk mengambil gambar

Andaikan di Jakarta banyak trotoar bersih dan luas seperti di Orchard... 

Tampak bahagia hehehe

Merlion Park seperti biasa ramai oleh pengunjung walaupun matahari siang bersinar terik di langit atas. Namun satu hal yang kusuka dari Singapura adalah udaranya yang bersih dan sinar mataharinya yang tidak menyengat seperti di Jakarta ataupun di Bangkok. Sehingga untuk berada di bawah sinar matahari langsung di siang buta bukanlah halangan yang berarti. Untuk sarana transportasi selama di Singapura, tentunya kami mengandalkan MRT sebagai transportasi paling efesien dan nyaman. Semoga saja MRT di Jakarta dan di kota-kota lain di Indonesia segera dibangun sehingga akan memudahkan mobilitas kita. #karena aku tidak suka berpergian di Ibu Kota dengan sistem transportasi yang menyebalkan!

Tidak banyak yang kami lakukan di Merlion Park selain mengambil gambar dan menggunakan fasilitas open wifi yang berasal dari gedung-gedung perkantoran di sekitarnya. 


Salah satu foto terbaik (menurut kami) yang diambil oleh fotografer yang sedang nongkrong di Merlion Park

Tujuan kami selanjutnya adalah Marina Bay yang terletang di seberang (oke jujur! Tujuan paling utamanya jelas mengunjungi kasino! Huahahaha). Untuk menuju Marina Bay, cara yang paling mudah dan hemat adalah berjalan dengan memutari sisi pinggir sungai walaupun rasanya cukup melelahkan—tapi kami masih punya banyak sekali waktu di Singapura.


Si Eneng Dephie selalu tampak bahagia

Salah satu keuntungan berjalan kaki di Singapura adalah banyaknya spot foto

Sampai di Marina Bay, seperti biasa mall ini jelas memberikan suasana yang nyaman dan wah! Kasinonya sendiri seolah tidak akan pernah sepi dari pengunjung karena dibuka setiap hari 24/7 seolah ingin menyaingi restoran cepat saju McDonnald. Saat itu adalah pertama kalinya bagi Dephie dalam mengunjungi kasino sedangkan aku sudah dua kali ke sana sebelumnya dan pernah berhasil memenangkan 100 dollar singapura namun akhirnya menelan kekalahan. Sebenarnya kasino sendiri adalah tempat yang begitu menyenangkan bagiku. Aku suka melihat orang-orang ramai berusaha mengadu keberuntungan mereka walau hanya dengan kasat mata saja kita bisa melihat jika orang-orang yang datang lebih banyak kehilangan uang dibandingkan membawa uang pulang.

Untuk dapat masuk ke dalam kasino kita harus memastikan membawa paspor dan melewati pemeriksaan yang ketat. Tidak ada barang yang boleh dibawa masuk kecuali tas tangan perempuan (mungkin dikarenakan ada kemungkinan para wanita akan menyimpan banyak uang di tas mereka untuk dihabiskan di dalam kasiono). Untuk masuk ke dalam kasino, pengunjung harus berpakaian rapi walaupun sandal (bukan sandal jepit seperti yang dipakai ke pantai) diijinkan (namun kita akan ditolak masuk jika pergi ke kasino di Sentosa yang memiliki peraturan yang lebih ketat). Walaupun awalnya kami hanya berniat untuk melihat-lihat aktifitas di dalam kasino (khususnya Dephie), namun akhirnya kami terjerumus pengaruhnya yang luar biasa sehingga kami ikut mengadu keberuntungan. Dan benar saja! Setelah menempuh permainan beberapa jam dengan menukar beberapa meja taruhan, kami berhasil memenangkan uang sebanyak 80 dollar! Namun tidak butuh waktu lama bagi uang kami untuk ditarik kembali masuk ke dalam pundi-pundi uang pemilik kasino.


***LESSON OF THE DAY***
Ingin mendapatkan uang? BEKERJA!!

Akhirnya karena tidak berhasil membawa pulang uang sepeserpun, kami memutuskan untuk segera pergi dari Marina Bay dan segera kembali ke Bandara untuk melanjutkan perjalanan kami menuju Seoul, Korea!
Pukul 6 sore kami tiba kembali ke Bandara Changi, setelah mengurus tas koper yang kami titipkan, kami memutuskan untuk makan di MacDonnald di bandara dan menunggu di terminal keberangkatan untuk melanjutkan penerbangan kami dengan menggunakan maskapai China Eastern menuju Wuhan, China.


China—Negeri Militer!

Setelah menunggu cukup lama dan akupun hampir tertidur pulas di jejeran bangku Bandara Changi, akhirnya kami bisa check in di counter China Eastern. Satu hal yang sangat mengganggu kami adalah kami sama sekali tidak pernah menaiki maskapai penerbangan China Eastern sebelumnya dan dari review yang kami baca mengatakan jika pesawat ini memiliki pelayanan yang tidak begitu bagus dan mempunyai fasilitas minim serta bangku pesawat yang tidak bagus. Selain itu kamipun sama sekali tidak tahu apakah kami mendapatkan makanan selama penerbangan kami dan terutama yang paling merisaukan bagi backpacker seperti kami adalah APAKAH HARGA TIKET PESAWAT SUDAH TERMASUK BAGASI?!

Kami sungguh tidak mempunyai budget lebih jika ternyata kami diharuskan untuk membayar bagasi—dengan koper berar yang berisikan mantel dan baju hangatsangat mustahil bagi kami untuk tidak menggunakan bagasi jika berpergian ke negara yang tengah dilanda musim dingin.

Namun apa yang kami dapatkan?!

Semua kekhawatiran kami sirna ketika kami diberitahu jika kami mendapatkan bagasi dan juga mendapatkan makan di pesawat! What?! Semua ini sungguh di luar perkiraan. Kami sungguh benar-benar diberkati dan kami sangat yakin perjalanan ini akan sangat menyenangkan!

Pukul 2 pagi, penerbangan kami dari Singapura menuju Wuhan di sebelah tenggara China berjalan dengan mulus. Dan ternyata, pesawat China Eastern tidaklah seburuk yang kami bayangkan. Tempat duduknya nyaman dan makanannya juga enak. Kami bahkan mendapat minuman berulang kali selama perjalanan. Ada satu hal yang menggelitik ketika kami menyadari jika kami adalah satu-satunya orang non-China yang berada di dalam pesawat. KAMI BERADA DI TENGAH ORANG-ORANG CHINA!!!! Sungguh ada perasaan berdebar namun mengesankan. Kami sepertinya masih nyaman dengan perjalanan kami.

Setelah menempuh perjalanan selama 4,5 jam, kami akhirnya sampai di Wuhan! Kami sungguh senang dan bersemangat karena ini akan menjadi kali pertamanya kami menginjakkan kaki di negara China! Walaupun aku belum sempat mengunjungi Tembok Besar China dan juga Forbidden City di Beijing, namun Wuhan juga bukanlah tempat yang buruk.

Pesawat mendarat dengan mulus dan kami semua turun dari pesawat karena kami tidak akan berlama-lama transit di Wuhan—kami harus melanjutkan perjalanan menuju Qing Dao di sebelah timur laut China. Tepat ketika kami turun melalui tangga pesawat menuju bis jemputan yang akan mengantar kami ke bandara Wuhan kami mendapatkan kejutan yang menyenangkan! Udara di Wuhan saat itu berkisar 5 derajat celcius. Sungguh dingin hingga ketika kami bernapas, ada asap yang menguap dari mulut kami seperti yang biasa kita tonton di film-film. Udara di Wuhan begitu segar! Rupanya ini rasanya berada di tengah musim dingin.

Bandara Wuhan bukanlah bandara yang besar. Bahkan ketika kami turun dari bis, dan memasukki sebuah pintu kaca double, kami langsung berhadapat dengan imigrasi China. Dan saat itulah saat-saat paling menegangkan! Kami melihat jika semua orang yang bekerja di bandara mengenakan pakaian militer (baik pria maupun wanita) dan semuanya tidak memperlihatkan jika mereka mengerti arti senyum karena hampir semuanya bertampang sangat serius. Bahkan kami sempat berpikir, apakah semua PNS di China lulusan militer?

Penampakan Bandara Wuhan


Semua orang berbaris rapi di hadapan tiga loket imigrasi. Namun saat itu kami justru melakukan kesalahan paling konyol yang pernah ada! Tepat mengantre di antara barisan, kami justru sibuk berfoto dengan backgroud imigrasi Wuhan, terlebih di sana terdapat banner besar yang bertuliskan WUHAN! 

***INFORMASI PENTING***
Di negara manapun, di bandara manapun, 
kegiatan mengambil foto di imigrasi DILARANG! 
Sebenarnya kita bisa melihat tanda dilarang mengambil foto 
di setiap imigrasi bandara. DI MANAPUN! 
INGAT! DI SETIAP BANDARA dan bukan hanya di Bandara Wuhan.

Lalu munculah suara teriakan dari balik meja imigrasi. Pria itu tidak lagi sibuk mengecap paspor para penumpang pesawat namun justru lebih sibuk berteriak "@?!#@#??&$%#@%@$" dalam bahasa Mandarin. Kami terdiam sekali karena mengira terjadi keributan, namun karena tidak ada hal yang mengkhawatirkan, kami kembali berfoto ria dan pria itu kembali berteriak "#@@#&??!#&@&#" saat itulah kami sadar jika kamilah yang diteriaki sejak tadi! Glek!!

Seorang wanita (yang juga berpakaian militer) langsung menghampiri kami dan setengah teriak "NO PHOTO!!"

Itu sungguh kejadian paling memalukan dan tidak menyenangkan di hari pertama kami menginjakkan kaki di China. Kami langsung terdiam dan melontaran maaf karena kami tidak mengerti dengan peraturan di bandara. Untunglah kamera kami tidak diambil dan dimusnahkan di tengah gundukan salju di luar! Phew....

Sialnya, kami tidak hanya diomelin karena masalah mengambil foto di bandara karena tepat ketika kami mendapati giliran kami untuk dicap paspor, kami justru dihadang oleh pria berpakaian militer itu lagi (seolah ingin membalas dendam karena telah mengambil foto di bandaranya) dan mulai berbicara dalam bahasa Mandarin "@#%@%@??@&@&@@???"

Kami berdua hanya bengong mendengarnya. Sungguh tidak adakah seorang saja yang bisa berbahasa Inggris di China?! Ternyata usut punya usut, kami bermasalah masuk ke China karena kami tidak mempunyai visa China (jelas saja karena tujuan utama kami adalah ke Korea Selatan). Sehingga ketika kami dimasukkan di ruang tunggu dan terjadi pembicaraan di antara petugas migras. 

***KETAKUTAN KAMI***

  1. Takut dikirim pulang ke Singapura dan menghancuran rencana liburan yang sudah menanti di depan 
  2. Takut jika ditahan di bandara dan disuruh membayar sejumlah uang
  3. Takut jika tertinggal pesawat menuju Qingdao karena waktu transit hanya 1 jam dan kami ditahan di bandara sudah cukup lama

Kami sungguh cemas dan takut hingga akhirnya kami diberitahukan jika kami memperoleh izin untuk berada di China maksimal satu hari. Sehingga mereka memberikan kami cap STAY PERMIT di lembar terakhir paspor kami. Setelah mendapakan paspor kami kembali, secepat kilat kami segera berlari kembali menuju bis yang akan membawa kami menuju pesawat. Udara dingin mencekam dan kurang dari beberapa detik saja, bis sudah akan melaju dan meninggalkan kami di bandara Wuhan.

Stay Permit dari Pemerintah China

Sampai di pesawat kami sungguh bersyukur masih berada di track yang seharusnya. Kami masih belum terbiasa dengan China dan perjalanan mendadak tanpa banyak riset ini menjadikan kami menempu semua kemungkinan dengan modal nekad. Namun perjalanan masih panjang... dan sebelum sampai di Korea, kami masih harus melewati satu bandara lagi di negeri militer ini: QINGDAO!

***RINCIAN PENGELUARAN***
Total pengeluaran di hari pertama, antara lain:
Airport tax : 150 ribu
Transportasi selama di Singapura : 30 ribu* 
Makan malam di McDonald: 50 ribu*
Total: 230 ribu 

*Nilai perkiraan (udah lupa hehehe)

Sabtu, 19 April 2014

Experience Seoul, South Korea

Siapa yang tidak senang jika berlibur ke negara 4 musim ketika salju merangkak turun? Terlebih untuk orang Indonesia yang notaben merupakan negara tropis, kesempatan untuk menginjakkan kaki di kota Seoul pun merupakan kesempatan langkah yang sulit kutolak. Membayangkan melihat tumpukan air beku di sepanjang trotoar jalan, merasakan hembusan butiran salju selembut es serut yang menyelimuti langit, hingga aktifitas membuat boneka salju sudah terbayang bahkan jauh sebelum rencana menginjakkan kaki di negara MC Mong ini terwujud. 

di tengah gundukan salju di Seoul


Semuanya berawal dari mimpi, obroral iseng di pojok Kafe Korea di Perpustakaan Pusat UI, hingga akhirnya ketika aku berdiri di hamparan salju di lapangan utama Korea University, Seoul—di mana sepanjang mata memandang tumpukan salju seputih awan di kejauhan tak henti-hentinya memanjakan mata—aku baru percaya jika semua ini nyata dan telah kulalui. 

Semuanya bermula pada sore mendung di bulan Desember 2012 di Kafe Korea, Perpustakaan Pusat UI—tempat nongkrong favoritku bersama Dephi, sahabat terbaikku. Seperti biasa, kami selalu menduduki sofa di pojok lantai dua dengan hanya memesan dua cangkir cappuccino hangat dan tentunya memanfaatkan fasilitas wifi gratis untuk melakukan research tentang semua mimpi yang hendak diwujudkan. Sebagai dua mahasiswa yang sama-sama kuliah di UI—aku kuliah di Fakultas Ekonomi sementara Dephie menuntut ilmu di Fakultas Hukum—bukanlah hal yang gampang untuk merencanakan liburan keluar negeri, terutama mengunjungi Korea Selatan yang berjarak 5.283 km jauhnya di timur laut. Bahkan jika melihat peta pun rasanya akan sulit sekali untuk mencapai tempat itu dengan kantong mahasiswa seperti kami. 

Ide pertama muncul dari Dephie. Dia ingin sekali kembali lagi ke Korea...

***ADD ON INFORMATION***
Dephie sudah pernah ke Korea sebelumnya di tahun 2008 
ketika dia terpilih sebagai salah satu delegasi Indonesia pada kegiatan Youth Camp

...terlebih karena Dephie juga sudah menggenggam gelar sarjana Humaniora Jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI, maka lengkap sudah jika rencana ke Korea akan menjadi perjalanan yang tidak sulit—selain kendala keuangan—bagi kami. Aku bahkan begitu tertarik sekali untuk mengunjungi Korea terlebih tahun 2012 merupakan masa berjayanya KPOP di mana hampir seluruh dunia larut dalam pengaruhnya yang luar biasa.

Namun sebagai mahasiswa, jiwa akademis kami pun muncul. Selain ingin jalan-jalan ke Korea, kami juga berkeinginan mendapatkan “sesuatu” yang sifatnya akademis dari perjalanan tersebut. Oleh karena itu, dengan merogok kantong tabungan selama ini, akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti konferensi international KMUN (Korea Model United Nations—Winter Conference 2014) yang diselenggarakan selama 4 hari berturut-turut dari tanggal 15-18 Januari 2014 di Korea University, Seoul. Namun sialnya, ketika pertama kali kami menyadari konferensi ini, kami sudah hampir terlambat untuk melakukan pendaftaran dan pembayaran biaya registrasi sebesar $200. Bahkan ketika kami sudah mendaftar, kami masuk daftar tunggu dikarenakan banyaknya mahasiswa yang mendaftar untuk mengukuti kegiatan tersebut.

Logo Korea Model United Nations 2013

***QUESTION AND ANSWER***
Apakah Model United Nations (MUN)?
MUN adalah sebuah simulasi konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa di mana delegasi yang ikut serta dalam kegiatan ini akan berperan sebagai wakil dari negara anggota PBB dari seluruh dunia. Dalam simulasi ini, para delegasi akan bernegosiasi, berdebat, hingga bertindak sesuai dengan kepentingan negaranya dalam membahas mengenai isu-isu internasional. Delegasi akan membahas tentang bagaimana memecahkan masalah global dengan menghormati kedaulatan setiap negara dan berusaha mencari jalan tengah untuk mendapatkan solusi terbaik bagi dunia. Setiap delegasi harus memperjuangkan usulan negara mereka yang merupakan manifestasi dari kebijakan nasional asing mereka serta memberikan ide-ide kreatif dan efektif untuk mengatasi masalah global seperti: kemiskinan, perubahan iklim, permasalahan gender, keamanan internasional, populasi dunia, dan masih banyak lagi. 

Namun semua sudah ada jalannya. Ketika kami dinyatakan masuk menjadi delegasi KMUN, kami langsung membayar biaya registrasi secepatnya padahal ketika kami cek semua tiket penerbangan ke Seoul, semuanya mencetak angka di atas 7 juta rupiah—sungguh bukan angka yang bersahabat dengan kantong kami saat itu. Terlebih jika mengingat biaya hidup yang tinggi di Korea, kami semakin tersudutkan untuk melupakan ide ke Korea dan merelakan biaya $200 kami yang telah ditransfer ke kantong panitia acara. Berhari-hari kami terus mencari kemungkinan tiket pesawat murah yang bisa membawa kami sampai ke Seoul, namun sepertinya musim dingin di Korea menjadikan negara itu sebagai salah satu destinasi liburan favorit terlebih jika keinginan untuk melewatkan liburan musim dingin di Eropa atau Jepang terlalu mahal, Korea jelas merupakan pilihan yang tepat.

Saat itu sehari sebelum liburan akhir tahun 2012 dimulai ketika aku tanpa sengaja menemukan situs Farecompare yang telah mengeluarkan kami dari ide untuk melupakan Korea sebagai tujuan kami di musim dingin itu. Farecompare merupakan salah satu situs penyedia layanan pencarian tiket pesawat yang begitu mudah dioperasikan dan memberikan solusi jika kita ingin menemukan pesawat dengan harga murah. Bayangkan, dengan keyword pencarian tiket pesawat dari Singapura ke Seoul, Korea Selatan, kami mendapatkan tiket promo hanya 3,4 juta rupiah return flight China Eastern dengan catatan transit sebanyak dua kali di Wuhan dan Qingdao untuk perjalanan menuju Seoul dan kami juga harus transit di Qingdao dan Nanjing pada penerbangan pulang dengan total perjalanan selama 14 jam. WOW! Bukan perjalanan singkat, namun kami diberikan kesempatan untuk menginjakkan kaki di 3 kota (tepatnya bandara) berbeda di China.

Rute Perjalanan Menuju Seoul, Korea Selatan. Sungguh perjalanan yang panjaaaaang!!

Sebenarnya harga tiket China Eastern itu cukup mahal jika kami beruntung mendapatkan tiket promo langsung dari Jakarta menuju Korea Selatan dengan catatan membeli dari beberapa bulan sebelum keberangkatan. Namun dengan hanya memiliki waktu kurang dari dua minggu, kami rasa harga itu sudah cukup masuk akal untuk membawa kami berlibur musim dingin ditambah mengikuti Konferensi KMUN 2013. Ketika pertama kali mendapatkan tiket promo tersebut, kami sungguh senang walaupun waktu tempuh yang jauh lebih lama (waktu tempuh penerbangan normal dari Jakarta-Seoul hanya 6 jam 30 menit) namun dengan bonus bisa singgah ke China dan melihat bagaimana keadaan China, tampaknya ide perjalanan transit ini bukan pilihan yang buruk (bisa jadi!).

Tanpa berpikir panjang dan dihempit waktu yang begitu singkat, kami memutuskan untuk membeli tiket tersebut dan mencari penerbangan yang akan membawa kami menuju Singapura. Akhirnya kami mendapatkan tiket Jakarta-Singapura dengan menggunakan maskapai Jetstar seharga 440 ribu rupiah dan tiket Singapura-Jakarta seharga 660 ribu rupiah menggunakan maskapai Lion Air (sudah termasuk bagasi 20 kilo). Ternyata jika ada niat, liburan keluar negeri bukanlah ide yang tidak masuk akal untuk dijalankan.


Sementara itu, untuk mendapatkan visa Korea Selatan bukanlah perkara yang susah bahkan ide untuk menggunakan pihak ketiga (travel agent) merupakan ide yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh kami. 

***OUR TRAVEL STYLE***
Backpacker! Yeah itu konsep kami dalam berlibur. 
Walaupun dikarena liburan yang selalu mendadak, 
kami terkadang justru menghabiskan banyak biaya yang seharusnya tidak perlu. 
Tapi kami tetap BACKPACKER! 

Selain demi alasan menghemat biaya, ternyata mengurus semua dokumen yang diperlukan untuk meng-apply visa tidaklah susah. Coba saja tengok di website resminya di sini untuk mengetahui lebih detail tentang proses pengajuan visa.

Adapun dokumen-dokumen yang diperlukan untuk mendapatkan visa Korea Selatan, antara lain:
  1. Formulir aplikasi permohonan visa (bisa diunduh di sini)
  2. Foto berwarna 1 lembar ukuran 4 x 6 cm yang ditempelkan pada formulis aplikasi permohonan visa (warna background tidak menjadi masalah)
  3. Paspor asli (akan dititipkan di Kedubes Korea Selatan di Jakarta) dan fotokopiannya meliputi halaman identitas depan dan belakang serta visa/cap dari negara-negara yang telah dikunjungi.
  4. Surat referensi bank (bisa menggunakan tabungan orangtua jika masih pelajar/mahasiswa)
  5. Fotokopi kartu mahasiswa atau surat keterangan mahasiswa dari kampus
  6. Surat sponsor orangtua (bagi pelajar/mahasiswa)
  7. Membayar biaya visa (untuk single visa saat ini harganya 480 ribu rupiah (waktu itu msih 300 ribu rupiah))
Pengajuan visa Korea Selatan sangat mudah jika semua dokumen tersebut telah lengkap dan dibawa ke Kantor Kedutaan Besar Korea Selatan, tanpa perlu dilakukan wawancara dan dalam waktu 5 hari kerja visa sudah bisa diambil mulai pukul 13.30-16.30.
Setelah visa di tangan, semuanya menjadi lebih mudah dan kami siap untuk menuju Seoul, Korea!


Penampakan Visa Korea Selatan

***CHECK LIST***
Persiapan sebelum melakukan perjalanan
dilakukan secara matang oleh kami berdua.
Adapun check list kami antara lain:
ü  Tiket pesawat Lion Air Jakarta-Singapura (return)
ü  Tiket pesawat China Eastern Singapura-Seoul (return)
ü  Paspor
ü  Perlengkapan konferensi KMUN (Jas, sepatu, dasi, laptop, notebook)
ü  Perlengkapan mandi
ü  Baju hangat (jaket, sweter, syal, sarung tangan, kupluk)
ü  Makanan ringan untuk sarapan (misalnya energen dan mie instan)

Oke, karena semua perlengkapan sudah disiapkan, itinerary sudah lengkap (kami menghabiskan beberapa hari untuk melakukan riset melalui internet), dan menukar uang won (saat itu kurs 1 won = Rp. 9.800,-) kami siap untuk meninggalkan keluarga dan negeri tercinta untuk melalangbuana ke negeri gingseng selama 16 hari. Ya benar! Lebih dari dua minggu!


***RINCIAN PENGELUARAN*** 
Total Pengeluaran Pra Perjalanan, antara lain: 
Tiket pesawat (total): 4,5 juta 
Biaya konferensi KMUN : 2 juta
Biaya Visa: 300 ribu
Total: Rp. 6.800.000,- 
NB: harga tiket bisa sangat ditekan jika Anda beruntung 
mendapatkan tiket promo dan tidak mengambil resiko 
 tiket penerbangan di high season (musim dingin) 
dua minggu sebelum perjalanan, seperti kami.