Senin, 21 April 2014

Experience Seoul, South Korea (HARI KEDUA)

Minggu, 13 Januari 2013

Perjalanan berlanjut.

Kami menaiki kembali pesawat dengan nomor penerbangan yang sama dari Wuhan menuju Qingdao menggunakan maskapai China Eastern. Pukul 7.35 waktu setempat pesawat melaju membawa kami dalam penerbangan yang memakan waktu hampir 2 jam menembus udara dingin di langit China. Seperti biasa, kami sama sekali tidak kekurangan makanan di dalam pesawat karena makanan yang disediakan banyak dan juga enak.

***ATTENTION***
Dikarenakan China Eastern adalah maskapai penerbangan milik China 
maka jangan heran jika ada menu makanan tidak halal yang disediakan. 
Misalnya daging babi kering.

Seperti halnya pada perjalanan Singapura menuju Wuhan sebelumnya, di dalam penerbangan kali inipun kami sama sekali tidak menemukan ada seorangpun penumpang yang bukan berkebangsaan China. Kami tetap menjadi satu-satunya orang Indonesia di dalam pesawat ini.

***SEDIKIT CURHATAN***
Berada di antara orang asing seperti ini, kami langsung kangen Indonesia :(

Pukul 9.15 pagi kami akhirnya mendarat di bandara Qingdao dan perasan was-was itu kembali lagi menyambut kami. Seperti halnya bandara Wuhan, bandara Qingdao kali ini juga tidak terlalu besar walaupun kali ini kami tidak perlu menaiki bis untuk menuju bandara. Seperti yang kami duga, seorang pria dengan postur tinggi besar dan BERSERAGAM MILITER sudah berdiri menyambut kami ketika kami baru saja keluar dari lorong yang menghubungkan pesawat dan bandara. Seolah tidak percaya pada siapa pun, pria ini mengumpulkan semua penumpang dengan berteriak dengan bahasa Mandarin fasih (ya iyalaaah) hingga tidak ada yang tertinggal lalu memimpin jalan mengarahkan kami menuju imigrasi (padahal di sepanjang jalan terdapat tanda yang menunjukkan ke mana arah imigrasi).

Antrean panjang dan kali ini kami tidak berpikiran sama sekali untuk mengambil foto. Karena sudah mendapatkan stay permit sehari di China, kami sudah merasa aman ketika melewati imigrasi Qingdao. Setelah urusan imigrasi selesai, kami segera mengurus bagasi kami karena penerbangan berikutnya akan menggunakan pesawat yang berbeda. 

***RIDICULOUS THING***
Ketika kami sudah mengumpulkan koper kami dan memasukkan ke dalam trolley kecil, mendadak muncul sengatan listrik dari trolley kami. Sungguh! Rasanya menyakitkan. Awalnya kami mengira mungkin ada keanehan dengan genggaman trolley tersebut sehingga kami ganti dengan trolley yang lain. Namun setiap kali kami mendorongnya, trolley akan mengeluarkan sengatan listrik. Kami tertawa geli! Tidak pernah kami rasakan ada kejadian seperti ini sebelumnya. 
PS: Penumpang lain tidak ada yang bermasalah dengan trolley mereka kecuali kami.
PSS: Apa ada kemungkinan trolley di bandara Qingdao bisa mendeteksi orang Non-China???

Akhirnya dengan menggunakan jaket sebagai pelindung dari sengatan listrik, kami bergegas mendorong trolley kami menuju lantai dua di terminal keberangkatan. Suasanan di bandara Qingdao tidak terlalu ramai. Karena waktu transit kami cukup lama di Qingdao, kami memutuskan untuk berkeliling bandara dan mengunjungi toko-toko yang menjual survernir maupun makanan khas Qingdao, yang merupakan kota pelabuhan. Ada beberapa kafe yang tersebar di sepanjang bandara, begitu juga dengan restoran-restoran yang menjual makanan dengan menu seafood. Namun kami sudah kenyang menyantap makanan di dalam pesawat sehingga kami hanya berkeliling.

Restoran seafood yang banyak bertebaran di dalam bandara

Setelah cape memutari bandara dan jepret beberapa lembar foto, kami memutuskan untuk mengunjungi Informasi bermaksud menanyakan apakah ada password wifi gratis yang tersedia. Namun kali inipun kami dihadapkan pada kenyataan jika seolah tidak ada seorangpun warga China yang bisa berbahasa Inggris. Bahkan bagian Informasi yang seharusnya mempunyai kemampuan dasar bahasa Inggris pun mustahil ditemui di Qingdao. Setiap kali kami memulai percakapan, wanita di  Informasi itu terus berbicara dalam bahasa Mandarin tanpa mengubris jika berulang kali kami mengatakan jika kami tidak paham bahasa Mandarin sama sekali.

Kira-kira begini bentuk pembicaraan kami:
Dephie: "Miss, do you have password for the wifi?"
Petugas resepsionis: "@$!##!??!%!$!>??!"
Aku: "Miss... do you know! Password!! Pass.... word...." sambil berusaha keras berbicara dengan bahasa tubuh.
Petugas resepsionis: "%$@%#@?@!!$%?@^@"
Aku dan Dephie: (dengan senyum terpaksa) "OK! Xie Xie."

Akhirnya kami menyerah dan lebih memilih untuk duduk-duduk di dalam bandara dan sesekali keluar bandara untuk merasakan udara dingin yang benar-benar dingin. Udara di Qingdao sepertinya hampir sama dengan keadaan di Wuhan. Di luar, kami bisa melihat tumpukan salju yang mulai mencair dan di kejauhan, beberapa gedung tinggi menjulang berselimutkan salju.

Banner raksasa bertuliskan Qingdao
Pukul 1 siang kami sudah bersiap untuk check in dan bergegas meninggalkan Qingdao. Namun sekali lagi kami harus melewati pemeriksaan bandara yang sangat ketat dan berlebihan. Aku bahkan harus membuka celana panjangku karena petugas bandara (wanita) ingin memastikan kalau tidak ada yang salah dengan bawaanku. Sungguh menyebalkan! 

Pukul 13.40 pesawat China Eastern dengan nomor penerbangan yang lain membawa kami menuju destinasi akhir kami: KOREA! Sungguh tidak sabar kami untuk segera menginjakkan kaki di Seoul dan merasakan winter yang sesungguhnya!

Penerbangan dari Qingdao menuju Seoul memakan waktu sekitar 2 jam. Pukul 15.50 sang pilot akhirnya mengumumkan jika kami akan segera mendarat di Bandara Incheon. Dari atas ketinggian aku bisa melihat di tengah lautan sudah mulai bermunculan pulau-pulau kecil di tengah perairan. Semakin lama ketika pesawat semakin menurunkan ketinggiannya, kami mulai bisa melihat lebih jelas gundukan berwarna putih seperti bongkahan garam di permukaan pulau-pulau kecil itu. Itu salju! Dephie sangat bersemangat! Semakin lama kami bisa melihat jika daratan di sepanjang mata kami memandang melalui jendela kecil pesawat mulai menampakan gundukan salju di mana-mana. Salju! Salju ada di mana. Bagi dua manusia yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di negara tropis seperti kami, melihat salju itu seperti melihat peselancar melihat ombak... seperti Christiano Ronaldo melihat lapangan bola....

"Akhirnya kita sampai," ujar Dephie bahagia. "Kita sampai di negeri Park Yoo Chun!"

***ADD ON INFORMATION***
Saat itu Dephie sedang tergila-gila dengan drama Korea yang berjudul I Miss You. 
Aktor utamanya adalah Park Yoo Chun.

Akhirnya setelah perjalanan panjang, kami tiba juga di Seoul, Korea Selatan! Anyeong Seoul!


Seoul, Unforgettable City

Betapa senangnya kami ketika pesawat akhirnya berhenti total, pintu pesawat terbuka, hingga akhirnya untuk pertama kali kami menginjakkan kaki di bandara Incheon. Kami bahkan terus tersenyum sembari membayangkan perjalanan super panjang yang telah kami lalui untuk bisa merasakan udara dingin Korea.

Bandara Incheon sangat indah dan hampir mirip dengan bandara Changi di Singapura; dua-duanya mengedepankan kebersihan, desain modern, dan berkelas. Itulah kenapa World Airport Award memahkotai kedua bandara tersebut sebagai bandara terbaik di dunia. Satu hal lagi yang menyenangkan tentang Korea adalah jaringan internet yang super cepat di manapun dan yang paling penting gratis!

***SEPUTAR INTERNET DI KOREA***

  1. Korea merupakan negara yang memiliki jaringan internet tercepat di dunia.
  2. Di setiap sudut Seoul, kami dengan mudah mendapatkan jaringan wifi gratis tanpa password dengan kecepatan yang luar biasa.
  3. Kami bisa men-download, browsing di MRT, kafe, daerah seputar perkantoran, dan tentunya di hostel tempat kami menginap.
  4. Kami tidak perlu membeli simcard selama di Korea karena kami tidak akan kesulitan dalam mengakses internet terlebih narsis di Facebook dan Path.
Ketika kami sampai di bagian imigrasi, tidak ditemukan adanya petugas yang mengenakan seragam militer seperti layaknya di China dan sebaliknya, kami merasa sangat diterima di Korea. Namun sepertinya jumlah kunjungan turis ke Korea sangat tinggi di musim dingin saat itu. Karena kami harus mengantre panjang untuk mendapatkan cap di paspor kami. Satu hal yang penting untuk diingat adalah untuk mengisi formulir kedatangan yang banyak tersedia di sekitar barisan antrean menuju imigrasi. Karena setelah kami mengantre panjang ternyata kami lupa mengisi formulir kedatangan sehingga kami harus keluar dari barisan dan mulai mengantre di barisan turis yang sepertinya tidak pernah berakhir.

Dikarenakan bandara Incheon berukuran cukup besar sehingga kita harus menaiki sky train menuju sisi lain bandara untuk mengambil bagasi. Setibanya kami di tempat baggage claim ternyata koper-koper kami sudah diletakan di atas lantai karena kami melalui proses yang lama di imigrasi. Keamanan di bandara sepertinya sangat dijaga.

Untuk sampai ke pusat kota Seoul, banyak pilihan transportasi yang bisa dipilih antara lain dengan menggunakan taksi, bus limousine atau menggunakan MRT yang langsung menghubungkan bandara dan pusat kota. Tentunya kami memilih untuk menggunakan MRT dikarenakan harganya yang lebih murah dibandingkan jika kami harus menaiki bus apalagi taksi. 

Peta Jalur MRT Seoul
Jika kita melihat peta MRT Seoul jelas akan berbeda sekali dengan tampilan peta MRT Singapura. Seoul merupakan kota yang besar dan jalurnya pun sangat banyak. Kami kemudian mencari jalur MRT dan menemukan loket penjualan tiket. Di sini kami memilih loket penjualan tiket yang bukan mesin dan kami diberitahu jika untuk sampai di kota, kami harus membeli Single Journey Ticket dan menuju Seoul Station (jalur satu) dan ketika sampai di Seoul Station, kami bisa mencari mini market atau 7 Eleven untuk membeli tiket terusan kami karena kami akan berada lama di Seoul. Seoul Station sendiri merupakan stasiun utama di Seoul. Untuk sampai di stasiun ini, kami harus transit di Stasiun Bupyeong dan mengambil jalur 1 menuju Seoul Station.

Satu hal yang berkesan ketika kami sedang berdiri menunggu kereta datang, kami bertemu dengan seorang bapak yang sudah tua dan ternyata dia jago berbahasa Indonesia. Bayangkan, belum sehari kami berada di Korea, kami bahkan sudah bisa bertemu orang yang mengingatkan kami pada Indonesia. Bapak ini sedang menunggu kereta bersama istri dan cucu-cucunya. Ternyata sekitar 15 tahun silam, bapak ini pernah bekerja di perlabuhan di Surabaya selama lebih dari 10 tahun. Bahkan dia sudah pernah ke Sumatera dan mengelilingi Pulau Jawa. Kami sungguh berkesan karena bapak ini walaupun sudah sangat tua namun dia masih bisa berbahasa Indonesia dengan begitu lancar.

Kereta di Korea mempunyai interval kedatangan yang tidak lama sehingga kami dengan cepat bisa berpindah dari bandara Incheon dengan kemegahan bangunannya dan mulai berpindah ke jalanan kota Seoul yang sudah dipenuhi tumpukan salju di mana-mana.

***MENGENAI MRT SEOUL***

  1. MRT Seoul pada dasarnya sangat mirip dengan MRT di Singapura dan sangat nyaman. 
  2. MRT di Seoul mempunyai jaringan wifi yang kencang di sepanjang gerbong
  3. MRT di Seoul mempunyai aroma yang kurang sedap karena bau Soju. Umumnya banyak orang yang masuk ke dalam kereta dengan wajah memerah sehabis minum soju
  4. Sebagian besar bangku diperuntukan bagi orang tua dan wanita. Selain itu, di Korea itu banyak sekali orang tua yang ditemui sehingga tidak heran bangku-bangku akan selalu penuh oleh orang tua
  5. Karena kesibukan masyarakat Korea, maka sebagian besar orang Korea memanfaatkan waktu tempuh di dalam MRT untuk menonton drama atau acara TV melalui ponsel mereka
  6. MRT di Seoul memperbolehkan orang untuk berjualan
Sampai di Seoul Station, kami segera mencari 7 Eleven untuk membeli kartu MRT yang bisa di-top up dengan sejumlah uang dan jika pada akhirnya masih ada saldo, uang kita bisa di-refund di konter 7 Eleven di manapun (kita bisa menemukan konter 7 Eleven di bandara Incheon ketika hendak pulang ke Indonesia). Kami masing-masing membeli satu kartu MRT dan membeli saldo sebesar 300 ribu rupiah yang cukup digunakan dalam dua minggu kedepan.

Tanpa menunggu waktu lagi, kami segera bergegas menaiki MRT untuk menuju Stasiun Jonggak di mana hostel kami berada. Namun satu hal yang perlu diingat ketika ingin menaiki MRT dengan bawaan koper besar adalah, jangan menggunkana jalur kecil bagi perorangan untuk masuk ke dalam stasiun karena palang yang membatasi tidak akan pernah terbuka selama ada koper yang kita bawa. Hal ini disebabkan karena pintu masuk ke dalam stasiun memiliki sensor di bawah (sekitar paha) yang akan otomatis mengunci pintu masuk jika berbenturan dengan benda keras seperti koper. Tapi jangan takut, karena pihak MRT sudah menyediakan pintu masuk khusus yang lebar di mana pintu masuk ini diperuntukan bagi orang yang membawa barang bawaan dan juga para pengguna kursi roda.

Untuk sampai di Stasiun Jonggak, kami mengambil arah menuju Stasiun Uijeongbu Bukbu di Jalur 1 dan hanya berjarak 2 stasiun dari Seoul Station. Ingat, MRT di Korea memiliki banyak pintu keluar atau EXIT sehingga untuk  menuju hostel, kita harus melalui EXIT 2. Ketika kami tiba di Stasiun Jonggak dan sambil menggerek koper besar kami, saat itu pula kami merasakan bagaimana udara musim dingin di Seoul. Udara terasa begitu dingin dan menusuk ketika kami sampai keluar dari stasiun. Sekeliling kami jalanan berselimutkan salju. Orang-orang tampak berjalan dengan terburu-buru dan perkantoran serta bangunan-bangunan di sekitar kami tampak indah dan berbeda. Tulisan Hangeul terlihat di mana-mana seolah ingin menyadarkan kami jika kami akhirnya tiba di Korea.

Selama di Korea kami akan menginap di Seoul Hostel Center di daerah perkantoran Jonggak. Seoul Hostel Center akan menjadi hostel pertama yang kami tempati karena kami berdua belum pernah menginap di hostel sebelumnya. Alasan aku memilih untuk menginap di Seoul Hostel Center karena mereka hostel yang menyediakan kamar bukan dormitori sehingga kami tidak perlu tidur dengan orang asing. Selain itu, karena menginap cukup lama (10 malam), kami mendapatkan harga yang lebih murah dengan membayar 25 ribu WON permalam/kamar. 

***CATATAN***
Harga 25 ribu WON adalah harga kamar tanpa jendela dan harus menginap minimal 10 hari. Harga akan berbeda untuk tipe berjendela dan durasi menginap yang lebih singkat.

Untuk mencapai Seoul Hostel Center, kami hanya perlu berjalan beberapa menit dari Stasiun Jonggak dan tepat berada di seberang Starbuck, kita bisa melihat sebuah bangunan dengan plang tulisan Korea besar-besar. Jangan pernah berharap tulisan itu berbunyi Seoul Hostel Center atau ada tulisan dalam bahasa latin yang menjelaskan keberadaan hostel ini karena kita tidak akan pernah bisa menemukannya. 

***KECURIGAAN KAMI***
Sepertinya ini hostel ilegal karena tidak memasang plang nama. Sangat dimungkinkan jika pemilik hostel tidak ingin membayar pajak. #hanya spekulasi

Awalnya kami sama sekali tidak tahu di mana letak hostel tersebut karena bangunan yang kami rujuk melalui peta yang ditampilkan di website hostelnya bukanlah sebuah hostel melainkan sebuah rumah makan sementara basement-nya merupakan bar. Tapi karena udara malam yang sangat dingin, kami memutuskan untuk masuk ke dalam bangunan itu dan mendapati sebuah tangga ke lantai dua. Di lantai dua inilah ada sebuah rumah makan tradisional Korea dan di sebelahnya terdapat sebuah lift kecil. Ternyata hostelnya ada di lantai 6 dan bisa diakses dengan menggunakan lift.

Dengan bawaan yang banyak dan udara yang dingin menusuk, kami sampai di meja resepsionis yang kecil di mana seorang pria yang masih muda dan bisa berbahasa Inggris dasar menyambut kami dengan wajah juteknya. Setelah membayar 250 ribu WON untuk menginap selama 10 hari, kami akhirnya diantarkan ke kamar. Dan apa yang kami temukan?! Sebuah kamar tersempit yang pernah kutemukan. Ukuran kamar ini hanya seluas 2X2 meter (kemungkinan) karena ukurannya sangat kecil. Kami mendapatkan tempat tidur bertingkat dan aku sangat bersyukur karena Dephie memilih untuk tidur di atas.

Peta Seoul Hostel Center Lantai 6

Awalnya kami cukup shock melihat kondisi hostel kami (terutama kamar yang begitu sempit) tapi pada akhirnya, kami begitu bersyukur karena menginap di Seoul Hostel Center. Bahkan hostel ini adalah hostel terbaik yang pernah kutempati.

***ALL ABOUT SEOUL HOSTEL CENTER***

  1. Harganya relatif lebih murah dibandingkan hostel lain di Seoul
  2. Mempunyai pilihan kamar dengan menggunakan jendela dan tidak
  3. Di setiap kamar memiliki pemanas di lantai sehingga di musim dingin, kamar akan terasa begitu hangat bahkan terkadang justru terasa terlalu panas sehingga beberapa kali kami harus membuka pintu kamar supaya kami tidak mati kepanasan
  4. Lokasi super strategis yang pernah ada. Kami baru menyadari hal ini di hari ketika kami di Seoul. Hostel ini menghubungkan kita ke GwangHwaMun Square, CheongGyeCheon Stream, GyeongBokGung Palace, Sejong Cultural Center, InSaDong, MyeongDong dan tempat-tempat lain hanya cukup BERJALAN KAKI!!
  5. Seoul Hostel Center memiliki tiga lantai yakni di lantai 5, 6, dan 7. Kami memilih lantai 6 karena dekat dengan dapur. Sementara kamar mandi wanita ada di lantai 6 dan kamar mandi pria ada di lantai 7. Jadi cukup adil untuk kami berdua.
  6. Kamar mandinya sangat bersih lengkap dengan semprotan air panas
  7. Sebelum masuk ke dalam kamar, kita harus melepaskan sepatu kita dan meletakkannya di dalam rak sepatu. Sebagai gantinya sudah disediakan sendal untuk dipakai di dalam hostel.
  8. Dapurnya luas dan terdapat TV untuk menonton. Kita juga memperoleh akses bebas ke air panas, penggunaan microwave, kulkas, piring, sendok, mangkok, dan semua yang bisa ditemukan di dapur. Bahkan ada kopi sachet yang bisa diminum gratis sesukanya
  9. Di dalam dapur ada magic jar yang digunakan untuk memasak nasi dan jangan malu untuk memakannya karena nasi itu disediakan gratis
  10. Di lantai 7 ada tiga komputer yang memiliki jaringan internet dan hampir di setiap lantai mempunyai jaringan internet yang cepat (aku bahkan men-download banyak film saat waktu luang di hostel hihihihi)
  11. Di lantai 7 juga terdapat mesin cuci yang sangat modern. Cukup masukan pakaian kita dan deterjen yang sudah disediakan oleh hostel, mesin cuci akan mencuci dan mengeringkan baju kita. Setelah itu kita bisa menjemurnya di sisi lain lantai 7
  12. Di lantai 7 juga ada ruangan kecil tempat kita bisa menggunakan telepon gratis. Tapi sayang Indonesia tidak termasuk dalam daftar sehingga tidak bisa dipergunakan untuk menelepon ke rumah. Selain itu disediakan juga cermin besar, setrikaan, dan juga hair dryer.
  13. Si pemilik hostel rada jutek orangnya walaupun bisa berbahasa Inggris dengan baik
  14. Untuk informasi lebih lanjut tentang Seoul Hostel Center bisa mengakses website-nya di sini
Setelah kami unpack semua koper dan makan malam, kami segera memutuskan untuk beristirahat karena hari yang panjang sudah kami lewati terlebih besok ada hari yang lebih panjang yang harus kami lalui. 

Selamat datang di Seoul, Korea Selatan!

***RINCIAN PENGELUARAN***
Tiket MRT Single Journey: 11.000
Beli tiket MRT dan isi saldo: 300.000
Hostel untuk 10 malam: 1.250.000
Total: 1.561.000


Minggu, 20 April 2014

Experience Seoul, South Korea (HARI PERTAMA)

Sabtu, 12 Januari 2013

Pukul 7 pagi aku dan Dephie sudah berkumpul di Bandara Soekarno-Hatta Terminal 2F untuk keberangkatan menuju Singapura dengan menggunakan pesawat Jetstar yang take off pada pukkul 8.20 WIB. Kami sengaja memilih waktu keberangkatan pagi karena kami bisa melewatkan satu hari di Singapura.
Pukul 11.05 waktu Singapura, kami mendarat di Bandara Internasional Changi. Dikarenakan bukanlah trip pertama kami ke Singapura, jadi kami sama sekali tidak mendapatkan hambatan untuk mencari tempat penitipan koper yang ada di setiap terminal. Cukup cari sign LEFT BAGGAGE, dan kita akan dengan mudah menemukannya. Dengan membayar sebesar 4,28 dollar Singapura kami bisa menitipkan koper kami untuk waktu maksimal 24 jam sehingga kegiatan berkeliling Singapura tidak akan menyulitkan.

***CATATAN***
Untuk informasi mengenai tempat penitipan tas bisa dicek di sini

Tujuan pertama hari itu adalah menuju Orchard untuk makan siang. Menu makan siang kami adalah laksa di pinggiran jalan Orchard yang indah dan begitu luas untuk pejalan kaki. Seperti biasa, aku tidak begitu suka menu makanan di Singapura karena tidak memilki taste yang kuat seperti makanan Indonesia. Rasanya hambar dan minumannya juga terasa hambar. Laksa rasaya tidak enak dan aneh! Dan seperti biasa, si Dephie yang juga Miss Belanja ini langsung melancarkan aksinya berbelanja di toko-toko mahal di seputaran Orchard padahal kami masih belum menginjakkan kaki di Korea!

Dikarenakan beberapa bagian Orchard sedang dilaksanakan banyak pemugaran dan pembagungan gedung sehingga kami tidak begitu lama berada di sana. Setelah makan siang dan melakukan aktifitas jepret sana sini (aktifitas wajib bagi kami berdua) kami memutuskan untuk segera hengkang dari Orchard dan menuju Merlion Park.


tempat wajib untuk mengambil gambar

Andaikan di Jakarta banyak trotoar bersih dan luas seperti di Orchard... 

Tampak bahagia hehehe

Merlion Park seperti biasa ramai oleh pengunjung walaupun matahari siang bersinar terik di langit atas. Namun satu hal yang kusuka dari Singapura adalah udaranya yang bersih dan sinar mataharinya yang tidak menyengat seperti di Jakarta ataupun di Bangkok. Sehingga untuk berada di bawah sinar matahari langsung di siang buta bukanlah halangan yang berarti. Untuk sarana transportasi selama di Singapura, tentunya kami mengandalkan MRT sebagai transportasi paling efesien dan nyaman. Semoga saja MRT di Jakarta dan di kota-kota lain di Indonesia segera dibangun sehingga akan memudahkan mobilitas kita. #karena aku tidak suka berpergian di Ibu Kota dengan sistem transportasi yang menyebalkan!

Tidak banyak yang kami lakukan di Merlion Park selain mengambil gambar dan menggunakan fasilitas open wifi yang berasal dari gedung-gedung perkantoran di sekitarnya. 


Salah satu foto terbaik (menurut kami) yang diambil oleh fotografer yang sedang nongkrong di Merlion Park

Tujuan kami selanjutnya adalah Marina Bay yang terletang di seberang (oke jujur! Tujuan paling utamanya jelas mengunjungi kasino! Huahahaha). Untuk menuju Marina Bay, cara yang paling mudah dan hemat adalah berjalan dengan memutari sisi pinggir sungai walaupun rasanya cukup melelahkan—tapi kami masih punya banyak sekali waktu di Singapura.


Si Eneng Dephie selalu tampak bahagia

Salah satu keuntungan berjalan kaki di Singapura adalah banyaknya spot foto

Sampai di Marina Bay, seperti biasa mall ini jelas memberikan suasana yang nyaman dan wah! Kasinonya sendiri seolah tidak akan pernah sepi dari pengunjung karena dibuka setiap hari 24/7 seolah ingin menyaingi restoran cepat saju McDonnald. Saat itu adalah pertama kalinya bagi Dephie dalam mengunjungi kasino sedangkan aku sudah dua kali ke sana sebelumnya dan pernah berhasil memenangkan 100 dollar singapura namun akhirnya menelan kekalahan. Sebenarnya kasino sendiri adalah tempat yang begitu menyenangkan bagiku. Aku suka melihat orang-orang ramai berusaha mengadu keberuntungan mereka walau hanya dengan kasat mata saja kita bisa melihat jika orang-orang yang datang lebih banyak kehilangan uang dibandingkan membawa uang pulang.

Untuk dapat masuk ke dalam kasino kita harus memastikan membawa paspor dan melewati pemeriksaan yang ketat. Tidak ada barang yang boleh dibawa masuk kecuali tas tangan perempuan (mungkin dikarenakan ada kemungkinan para wanita akan menyimpan banyak uang di tas mereka untuk dihabiskan di dalam kasiono). Untuk masuk ke dalam kasino, pengunjung harus berpakaian rapi walaupun sandal (bukan sandal jepit seperti yang dipakai ke pantai) diijinkan (namun kita akan ditolak masuk jika pergi ke kasino di Sentosa yang memiliki peraturan yang lebih ketat). Walaupun awalnya kami hanya berniat untuk melihat-lihat aktifitas di dalam kasino (khususnya Dephie), namun akhirnya kami terjerumus pengaruhnya yang luar biasa sehingga kami ikut mengadu keberuntungan. Dan benar saja! Setelah menempuh permainan beberapa jam dengan menukar beberapa meja taruhan, kami berhasil memenangkan uang sebanyak 80 dollar! Namun tidak butuh waktu lama bagi uang kami untuk ditarik kembali masuk ke dalam pundi-pundi uang pemilik kasino.


***LESSON OF THE DAY***
Ingin mendapatkan uang? BEKERJA!!

Akhirnya karena tidak berhasil membawa pulang uang sepeserpun, kami memutuskan untuk segera pergi dari Marina Bay dan segera kembali ke Bandara untuk melanjutkan perjalanan kami menuju Seoul, Korea!
Pukul 6 sore kami tiba kembali ke Bandara Changi, setelah mengurus tas koper yang kami titipkan, kami memutuskan untuk makan di MacDonnald di bandara dan menunggu di terminal keberangkatan untuk melanjutkan penerbangan kami dengan menggunakan maskapai China Eastern menuju Wuhan, China.


China—Negeri Militer!

Setelah menunggu cukup lama dan akupun hampir tertidur pulas di jejeran bangku Bandara Changi, akhirnya kami bisa check in di counter China Eastern. Satu hal yang sangat mengganggu kami adalah kami sama sekali tidak pernah menaiki maskapai penerbangan China Eastern sebelumnya dan dari review yang kami baca mengatakan jika pesawat ini memiliki pelayanan yang tidak begitu bagus dan mempunyai fasilitas minim serta bangku pesawat yang tidak bagus. Selain itu kamipun sama sekali tidak tahu apakah kami mendapatkan makanan selama penerbangan kami dan terutama yang paling merisaukan bagi backpacker seperti kami adalah APAKAH HARGA TIKET PESAWAT SUDAH TERMASUK BAGASI?!

Kami sungguh tidak mempunyai budget lebih jika ternyata kami diharuskan untuk membayar bagasi—dengan koper berar yang berisikan mantel dan baju hangatsangat mustahil bagi kami untuk tidak menggunakan bagasi jika berpergian ke negara yang tengah dilanda musim dingin.

Namun apa yang kami dapatkan?!

Semua kekhawatiran kami sirna ketika kami diberitahu jika kami mendapatkan bagasi dan juga mendapatkan makan di pesawat! What?! Semua ini sungguh di luar perkiraan. Kami sungguh benar-benar diberkati dan kami sangat yakin perjalanan ini akan sangat menyenangkan!

Pukul 2 pagi, penerbangan kami dari Singapura menuju Wuhan di sebelah tenggara China berjalan dengan mulus. Dan ternyata, pesawat China Eastern tidaklah seburuk yang kami bayangkan. Tempat duduknya nyaman dan makanannya juga enak. Kami bahkan mendapat minuman berulang kali selama perjalanan. Ada satu hal yang menggelitik ketika kami menyadari jika kami adalah satu-satunya orang non-China yang berada di dalam pesawat. KAMI BERADA DI TENGAH ORANG-ORANG CHINA!!!! Sungguh ada perasaan berdebar namun mengesankan. Kami sepertinya masih nyaman dengan perjalanan kami.

Setelah menempuh perjalanan selama 4,5 jam, kami akhirnya sampai di Wuhan! Kami sungguh senang dan bersemangat karena ini akan menjadi kali pertamanya kami menginjakkan kaki di negara China! Walaupun aku belum sempat mengunjungi Tembok Besar China dan juga Forbidden City di Beijing, namun Wuhan juga bukanlah tempat yang buruk.

Pesawat mendarat dengan mulus dan kami semua turun dari pesawat karena kami tidak akan berlama-lama transit di Wuhan—kami harus melanjutkan perjalanan menuju Qing Dao di sebelah timur laut China. Tepat ketika kami turun melalui tangga pesawat menuju bis jemputan yang akan mengantar kami ke bandara Wuhan kami mendapatkan kejutan yang menyenangkan! Udara di Wuhan saat itu berkisar 5 derajat celcius. Sungguh dingin hingga ketika kami bernapas, ada asap yang menguap dari mulut kami seperti yang biasa kita tonton di film-film. Udara di Wuhan begitu segar! Rupanya ini rasanya berada di tengah musim dingin.

Bandara Wuhan bukanlah bandara yang besar. Bahkan ketika kami turun dari bis, dan memasukki sebuah pintu kaca double, kami langsung berhadapat dengan imigrasi China. Dan saat itulah saat-saat paling menegangkan! Kami melihat jika semua orang yang bekerja di bandara mengenakan pakaian militer (baik pria maupun wanita) dan semuanya tidak memperlihatkan jika mereka mengerti arti senyum karena hampir semuanya bertampang sangat serius. Bahkan kami sempat berpikir, apakah semua PNS di China lulusan militer?

Penampakan Bandara Wuhan


Semua orang berbaris rapi di hadapan tiga loket imigrasi. Namun saat itu kami justru melakukan kesalahan paling konyol yang pernah ada! Tepat mengantre di antara barisan, kami justru sibuk berfoto dengan backgroud imigrasi Wuhan, terlebih di sana terdapat banner besar yang bertuliskan WUHAN! 

***INFORMASI PENTING***
Di negara manapun, di bandara manapun, 
kegiatan mengambil foto di imigrasi DILARANG! 
Sebenarnya kita bisa melihat tanda dilarang mengambil foto 
di setiap imigrasi bandara. DI MANAPUN! 
INGAT! DI SETIAP BANDARA dan bukan hanya di Bandara Wuhan.

Lalu munculah suara teriakan dari balik meja imigrasi. Pria itu tidak lagi sibuk mengecap paspor para penumpang pesawat namun justru lebih sibuk berteriak "@?!#@#??&$%#@%@$" dalam bahasa Mandarin. Kami terdiam sekali karena mengira terjadi keributan, namun karena tidak ada hal yang mengkhawatirkan, kami kembali berfoto ria dan pria itu kembali berteriak "#@@#&??!#&@&#" saat itulah kami sadar jika kamilah yang diteriaki sejak tadi! Glek!!

Seorang wanita (yang juga berpakaian militer) langsung menghampiri kami dan setengah teriak "NO PHOTO!!"

Itu sungguh kejadian paling memalukan dan tidak menyenangkan di hari pertama kami menginjakkan kaki di China. Kami langsung terdiam dan melontaran maaf karena kami tidak mengerti dengan peraturan di bandara. Untunglah kamera kami tidak diambil dan dimusnahkan di tengah gundukan salju di luar! Phew....

Sialnya, kami tidak hanya diomelin karena masalah mengambil foto di bandara karena tepat ketika kami mendapati giliran kami untuk dicap paspor, kami justru dihadang oleh pria berpakaian militer itu lagi (seolah ingin membalas dendam karena telah mengambil foto di bandaranya) dan mulai berbicara dalam bahasa Mandarin "@#%@%@??@&@&@@???"

Kami berdua hanya bengong mendengarnya. Sungguh tidak adakah seorang saja yang bisa berbahasa Inggris di China?! Ternyata usut punya usut, kami bermasalah masuk ke China karena kami tidak mempunyai visa China (jelas saja karena tujuan utama kami adalah ke Korea Selatan). Sehingga ketika kami dimasukkan di ruang tunggu dan terjadi pembicaraan di antara petugas migras. 

***KETAKUTAN KAMI***

  1. Takut dikirim pulang ke Singapura dan menghancuran rencana liburan yang sudah menanti di depan 
  2. Takut jika ditahan di bandara dan disuruh membayar sejumlah uang
  3. Takut jika tertinggal pesawat menuju Qingdao karena waktu transit hanya 1 jam dan kami ditahan di bandara sudah cukup lama

Kami sungguh cemas dan takut hingga akhirnya kami diberitahukan jika kami memperoleh izin untuk berada di China maksimal satu hari. Sehingga mereka memberikan kami cap STAY PERMIT di lembar terakhir paspor kami. Setelah mendapakan paspor kami kembali, secepat kilat kami segera berlari kembali menuju bis yang akan membawa kami menuju pesawat. Udara dingin mencekam dan kurang dari beberapa detik saja, bis sudah akan melaju dan meninggalkan kami di bandara Wuhan.

Stay Permit dari Pemerintah China

Sampai di pesawat kami sungguh bersyukur masih berada di track yang seharusnya. Kami masih belum terbiasa dengan China dan perjalanan mendadak tanpa banyak riset ini menjadikan kami menempu semua kemungkinan dengan modal nekad. Namun perjalanan masih panjang... dan sebelum sampai di Korea, kami masih harus melewati satu bandara lagi di negeri militer ini: QINGDAO!

***RINCIAN PENGELUARAN***
Total pengeluaran di hari pertama, antara lain:
Airport tax : 150 ribu
Transportasi selama di Singapura : 30 ribu* 
Makan malam di McDonald: 50 ribu*
Total: 230 ribu 

*Nilai perkiraan (udah lupa hehehe)

Sabtu, 19 April 2014

Experience Seoul, South Korea

Siapa yang tidak senang jika berlibur ke negara 4 musim ketika salju merangkak turun? Terlebih untuk orang Indonesia yang notaben merupakan negara tropis, kesempatan untuk menginjakkan kaki di kota Seoul pun merupakan kesempatan langkah yang sulit kutolak. Membayangkan melihat tumpukan air beku di sepanjang trotoar jalan, merasakan hembusan butiran salju selembut es serut yang menyelimuti langit, hingga aktifitas membuat boneka salju sudah terbayang bahkan jauh sebelum rencana menginjakkan kaki di negara MC Mong ini terwujud. 

di tengah gundukan salju di Seoul


Semuanya berawal dari mimpi, obroral iseng di pojok Kafe Korea di Perpustakaan Pusat UI, hingga akhirnya ketika aku berdiri di hamparan salju di lapangan utama Korea University, Seoul—di mana sepanjang mata memandang tumpukan salju seputih awan di kejauhan tak henti-hentinya memanjakan mata—aku baru percaya jika semua ini nyata dan telah kulalui. 

Semuanya bermula pada sore mendung di bulan Desember 2012 di Kafe Korea, Perpustakaan Pusat UI—tempat nongkrong favoritku bersama Dephi, sahabat terbaikku. Seperti biasa, kami selalu menduduki sofa di pojok lantai dua dengan hanya memesan dua cangkir cappuccino hangat dan tentunya memanfaatkan fasilitas wifi gratis untuk melakukan research tentang semua mimpi yang hendak diwujudkan. Sebagai dua mahasiswa yang sama-sama kuliah di UI—aku kuliah di Fakultas Ekonomi sementara Dephie menuntut ilmu di Fakultas Hukum—bukanlah hal yang gampang untuk merencanakan liburan keluar negeri, terutama mengunjungi Korea Selatan yang berjarak 5.283 km jauhnya di timur laut. Bahkan jika melihat peta pun rasanya akan sulit sekali untuk mencapai tempat itu dengan kantong mahasiswa seperti kami. 

Ide pertama muncul dari Dephie. Dia ingin sekali kembali lagi ke Korea...

***ADD ON INFORMATION***
Dephie sudah pernah ke Korea sebelumnya di tahun 2008 
ketika dia terpilih sebagai salah satu delegasi Indonesia pada kegiatan Youth Camp

...terlebih karena Dephie juga sudah menggenggam gelar sarjana Humaniora Jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI, maka lengkap sudah jika rencana ke Korea akan menjadi perjalanan yang tidak sulit—selain kendala keuangan—bagi kami. Aku bahkan begitu tertarik sekali untuk mengunjungi Korea terlebih tahun 2012 merupakan masa berjayanya KPOP di mana hampir seluruh dunia larut dalam pengaruhnya yang luar biasa.

Namun sebagai mahasiswa, jiwa akademis kami pun muncul. Selain ingin jalan-jalan ke Korea, kami juga berkeinginan mendapatkan “sesuatu” yang sifatnya akademis dari perjalanan tersebut. Oleh karena itu, dengan merogok kantong tabungan selama ini, akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti konferensi international KMUN (Korea Model United Nations—Winter Conference 2014) yang diselenggarakan selama 4 hari berturut-turut dari tanggal 15-18 Januari 2014 di Korea University, Seoul. Namun sialnya, ketika pertama kali kami menyadari konferensi ini, kami sudah hampir terlambat untuk melakukan pendaftaran dan pembayaran biaya registrasi sebesar $200. Bahkan ketika kami sudah mendaftar, kami masuk daftar tunggu dikarenakan banyaknya mahasiswa yang mendaftar untuk mengukuti kegiatan tersebut.

Logo Korea Model United Nations 2013

***QUESTION AND ANSWER***
Apakah Model United Nations (MUN)?
MUN adalah sebuah simulasi konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa di mana delegasi yang ikut serta dalam kegiatan ini akan berperan sebagai wakil dari negara anggota PBB dari seluruh dunia. Dalam simulasi ini, para delegasi akan bernegosiasi, berdebat, hingga bertindak sesuai dengan kepentingan negaranya dalam membahas mengenai isu-isu internasional. Delegasi akan membahas tentang bagaimana memecahkan masalah global dengan menghormati kedaulatan setiap negara dan berusaha mencari jalan tengah untuk mendapatkan solusi terbaik bagi dunia. Setiap delegasi harus memperjuangkan usulan negara mereka yang merupakan manifestasi dari kebijakan nasional asing mereka serta memberikan ide-ide kreatif dan efektif untuk mengatasi masalah global seperti: kemiskinan, perubahan iklim, permasalahan gender, keamanan internasional, populasi dunia, dan masih banyak lagi. 

Namun semua sudah ada jalannya. Ketika kami dinyatakan masuk menjadi delegasi KMUN, kami langsung membayar biaya registrasi secepatnya padahal ketika kami cek semua tiket penerbangan ke Seoul, semuanya mencetak angka di atas 7 juta rupiah—sungguh bukan angka yang bersahabat dengan kantong kami saat itu. Terlebih jika mengingat biaya hidup yang tinggi di Korea, kami semakin tersudutkan untuk melupakan ide ke Korea dan merelakan biaya $200 kami yang telah ditransfer ke kantong panitia acara. Berhari-hari kami terus mencari kemungkinan tiket pesawat murah yang bisa membawa kami sampai ke Seoul, namun sepertinya musim dingin di Korea menjadikan negara itu sebagai salah satu destinasi liburan favorit terlebih jika keinginan untuk melewatkan liburan musim dingin di Eropa atau Jepang terlalu mahal, Korea jelas merupakan pilihan yang tepat.

Saat itu sehari sebelum liburan akhir tahun 2012 dimulai ketika aku tanpa sengaja menemukan situs Farecompare yang telah mengeluarkan kami dari ide untuk melupakan Korea sebagai tujuan kami di musim dingin itu. Farecompare merupakan salah satu situs penyedia layanan pencarian tiket pesawat yang begitu mudah dioperasikan dan memberikan solusi jika kita ingin menemukan pesawat dengan harga murah. Bayangkan, dengan keyword pencarian tiket pesawat dari Singapura ke Seoul, Korea Selatan, kami mendapatkan tiket promo hanya 3,4 juta rupiah return flight China Eastern dengan catatan transit sebanyak dua kali di Wuhan dan Qingdao untuk perjalanan menuju Seoul dan kami juga harus transit di Qingdao dan Nanjing pada penerbangan pulang dengan total perjalanan selama 14 jam. WOW! Bukan perjalanan singkat, namun kami diberikan kesempatan untuk menginjakkan kaki di 3 kota (tepatnya bandara) berbeda di China.

Rute Perjalanan Menuju Seoul, Korea Selatan. Sungguh perjalanan yang panjaaaaang!!

Sebenarnya harga tiket China Eastern itu cukup mahal jika kami beruntung mendapatkan tiket promo langsung dari Jakarta menuju Korea Selatan dengan catatan membeli dari beberapa bulan sebelum keberangkatan. Namun dengan hanya memiliki waktu kurang dari dua minggu, kami rasa harga itu sudah cukup masuk akal untuk membawa kami berlibur musim dingin ditambah mengikuti Konferensi KMUN 2013. Ketika pertama kali mendapatkan tiket promo tersebut, kami sungguh senang walaupun waktu tempuh yang jauh lebih lama (waktu tempuh penerbangan normal dari Jakarta-Seoul hanya 6 jam 30 menit) namun dengan bonus bisa singgah ke China dan melihat bagaimana keadaan China, tampaknya ide perjalanan transit ini bukan pilihan yang buruk (bisa jadi!).

Tanpa berpikir panjang dan dihempit waktu yang begitu singkat, kami memutuskan untuk membeli tiket tersebut dan mencari penerbangan yang akan membawa kami menuju Singapura. Akhirnya kami mendapatkan tiket Jakarta-Singapura dengan menggunakan maskapai Jetstar seharga 440 ribu rupiah dan tiket Singapura-Jakarta seharga 660 ribu rupiah menggunakan maskapai Lion Air (sudah termasuk bagasi 20 kilo). Ternyata jika ada niat, liburan keluar negeri bukanlah ide yang tidak masuk akal untuk dijalankan.


Sementara itu, untuk mendapatkan visa Korea Selatan bukanlah perkara yang susah bahkan ide untuk menggunakan pihak ketiga (travel agent) merupakan ide yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh kami. 

***OUR TRAVEL STYLE***
Backpacker! Yeah itu konsep kami dalam berlibur. 
Walaupun dikarena liburan yang selalu mendadak, 
kami terkadang justru menghabiskan banyak biaya yang seharusnya tidak perlu. 
Tapi kami tetap BACKPACKER! 

Selain demi alasan menghemat biaya, ternyata mengurus semua dokumen yang diperlukan untuk meng-apply visa tidaklah susah. Coba saja tengok di website resminya di sini untuk mengetahui lebih detail tentang proses pengajuan visa.

Adapun dokumen-dokumen yang diperlukan untuk mendapatkan visa Korea Selatan, antara lain:
  1. Formulir aplikasi permohonan visa (bisa diunduh di sini)
  2. Foto berwarna 1 lembar ukuran 4 x 6 cm yang ditempelkan pada formulis aplikasi permohonan visa (warna background tidak menjadi masalah)
  3. Paspor asli (akan dititipkan di Kedubes Korea Selatan di Jakarta) dan fotokopiannya meliputi halaman identitas depan dan belakang serta visa/cap dari negara-negara yang telah dikunjungi.
  4. Surat referensi bank (bisa menggunakan tabungan orangtua jika masih pelajar/mahasiswa)
  5. Fotokopi kartu mahasiswa atau surat keterangan mahasiswa dari kampus
  6. Surat sponsor orangtua (bagi pelajar/mahasiswa)
  7. Membayar biaya visa (untuk single visa saat ini harganya 480 ribu rupiah (waktu itu msih 300 ribu rupiah))
Pengajuan visa Korea Selatan sangat mudah jika semua dokumen tersebut telah lengkap dan dibawa ke Kantor Kedutaan Besar Korea Selatan, tanpa perlu dilakukan wawancara dan dalam waktu 5 hari kerja visa sudah bisa diambil mulai pukul 13.30-16.30.
Setelah visa di tangan, semuanya menjadi lebih mudah dan kami siap untuk menuju Seoul, Korea!


Penampakan Visa Korea Selatan

***CHECK LIST***
Persiapan sebelum melakukan perjalanan
dilakukan secara matang oleh kami berdua.
Adapun check list kami antara lain:
ü  Tiket pesawat Lion Air Jakarta-Singapura (return)
ü  Tiket pesawat China Eastern Singapura-Seoul (return)
ü  Paspor
ü  Perlengkapan konferensi KMUN (Jas, sepatu, dasi, laptop, notebook)
ü  Perlengkapan mandi
ü  Baju hangat (jaket, sweter, syal, sarung tangan, kupluk)
ü  Makanan ringan untuk sarapan (misalnya energen dan mie instan)

Oke, karena semua perlengkapan sudah disiapkan, itinerary sudah lengkap (kami menghabiskan beberapa hari untuk melakukan riset melalui internet), dan menukar uang won (saat itu kurs 1 won = Rp. 9.800,-) kami siap untuk meninggalkan keluarga dan negeri tercinta untuk melalangbuana ke negeri gingseng selama 16 hari. Ya benar! Lebih dari dua minggu!


***RINCIAN PENGELUARAN*** 
Total Pengeluaran Pra Perjalanan, antara lain: 
Tiket pesawat (total): 4,5 juta 
Biaya konferensi KMUN : 2 juta
Biaya Visa: 300 ribu
Total: Rp. 6.800.000,- 
NB: harga tiket bisa sangat ditekan jika Anda beruntung 
mendapatkan tiket promo dan tidak mengambil resiko 
 tiket penerbangan di high season (musim dingin) 
dua minggu sebelum perjalanan, seperti kami.