Jumat, 25 April 2014

Experience Seoul, South Korea (HARI KETIGA)

Senin, 14 Januari 2013

Pagi itu kami terbangun sekitar pukul 8. Udara di dalam kamar terasa begitu panas karena pemanas yang digunakan pemilik hostel. Salah satu kelemahan jika memilih kamar tanpa jendela adalah kami harus sering-sering membuka pintu supaya tidak kepanasan. Ironis memang, ketika kami berjalan ke dapur udara terasa begitu dingin terlebih jika tidak mengenakan sandal, namun udara di dalam kamar justru terasa panas.

Setelah mandi dan sarapan di dapur (saat itu kami masih belum menyadari jika nasi yang tersedia di dapur boleh di makan) kami mulai merencanakan akan ke mana hari itu. Perjalanan ke Korea yang begitu mendadak dan tanpa rencana yang matang justru membuat liburan kami lebih menantang dan menyenangkan. Setelah berbicara panjang lebar, hari itu kami memutuskan untuk berbelanja pakaian musim dingin di salah satu pasar tradisional paling terkenal di Korea: Pasar Namdaemun. Kami dengar jika barang-barang yang dijual di Namdaemun adalah yang termurah dan merupakan tempat wisata yang sayang untuk dilewatkan seperti halnya jika ke Bali tanpa ke Pasar Sukowati atau ke Bangkok tanpa ke Chatucak Market. 

Pagi itu kami juga mencoba untuk menghubungi teman Korea kami yang menetap di Seoul, yaitu Hye Jin dan Hyeong-ku. Hye Jin sesungguhnya adalah teman Dephie ketika dia mengikuti pertukaran pemuda di tahun 2008 dulu di Korea. Saat ini Hye Jin sudah bekerja di Kedutaan Besar Nepal untuk Korea di Seoul. Hye Jin meminta kami untuk mampir ke kantornya mendekati jam makan siang dan dia begitu senang bisa reunian kembali dengan Dephie setelah sekian lama.

Sementara itu respon yang cukup berbeda datang dari Hyeong-ku (Dephie memanggilnya Manager Lee). Sebagai informasi, pada bulan Juni tahun 2011, aku dan Dephie pernah menjadi volunteer sebagai Laison Officer (LO) untuk pertandingan basket persahabatan Sister City di Jakarta yang mengundang 3 negara sahabat yakni Jepang, Thailand, dan Korea Selatan. Untunglah saat itu aku menjadi LO untuk delegasi Korea Selatan sementara Dephie menjadi LO untuk delegasi dari Thailand. LO sendiri merupakan job volunteer yang paling kami sukai karena bisa bertemu banyak orang dari berbagai negara dan sekaligus menjalin persahabatan.

Saat itu, Mr. Lee atau yang kupanggil Hyeong ini merupakan salah satu manajer dari Dinas Pemuda dan Olahraga Korea yang membawa 15 mahasiswa dari jurusan Olahraga Korea University ke Jakarta untuk bertanding basket selama 9 hari. Maka karena menjadi LO-nya langsung, aku dan Dephie menjalin hubungan yang begitu akrab dengan Hyeong dan semua pemain basket yang rata-rata seumuran dengan kami. Kami sangat senang mendapatkan kesempatan yang begitu istimewa dalam menjalin persahabatan antar negara.

Singkatnya, aku dan Dephie hanya iseng menghubungi Hyeong karena kami kira sudah jauh-jauh kami ke Korea dan sudah berselang 2 tahun sejak pertama kalinya kami bertemu tentu sudah sepantasnya kami mengucapkan salam dan mengobrol singkat. Namun yang mengejutkannya adalah respon Hyeong begitu positif ketika mendengar kami berada di Seoul. Dia bahkan begitu senang dan langsung datang menuju hostel kami tepat beberapa menit sebelum kami akan mulai berkeliling kota Seoul.

Hyeong mengaku cukup kesulitan untuk mencari hostel kami karena lokasinya yang tidak terdaftar di peta. Namun ketika pertama kalinya melihat Hyeong lagi, kami begitu senang dan begitu pula dengan Hyeong. Pagi itu Hyeong justru membolos dari kantor untuk menemui kami. Dia berpesan jika nanti malam dia akan datang lagi ke hostel untuk menjemput kami dan membawa kami untuk makan malam bersama keluarganya. Kami sungguh sangat terharu mendengarnya.

Bersama si Best Hyeong Ever di Cheonggyecheon Stream

Setelah Hyeong kembali ke kantornya, kami memutuskan untuk segera memulai perjalanan kami terutama karena kami harus bertemu dengan Hye Jin di jam makan siang nanti.

Dan benar saja... ketika kami pertama kali menginjakkan kaki kami di jalanan kota Seoul yang basah dan sebagian tertutup salju, kami bisa merasakan sensasi musim dingin yang begitu luar biasa. Udara di luar begitu dingin hingga wajah kami terasa membeku.

***KATANYA...***
Menurut salah satu teman Korea-ku, saat ini musim dingin di Korea berlangsung lebih lama dan lebih dingin dari yang pernah mereka alami. 
Hal ini dikarenakan perubahan cuaca dan global warming yang sedang berlangsung saat ini.

Kami berjalan dengan baju berlapis dua dan mantel tebal, namun tetap saja udara yang dingin terus saja menerjang wajah kami. Setiap kali kami berbicara pasti ada uap yang berhembus dan tangan terasa mati rasa karena rasa dingin yang begitu kuat. Hal ini membuat kami harus mengenakan sarung tangan (dengan kebiasaan orang Indonesia, sarung tangan jelas bukan barang yang biasa ditemui dan mengenakannya jelas sangat tidak nyaman dan menyulitkan) dan kupluk yang sudah kami bawa dari Indonesia. Namun tetap saja bibirku dengan sangat cepat mengering dan pipi menjadi kebas. Selain itu telinga yang dingin akan terasa sangat sakit ketika disentuh.

Banyak sekali kafe di Seoul

Ada Park Yoo Chun di atas sana...

Jalanan kota Seoul yang bebas macet
Namun itulah sensasi musim dingin. Kami tidak pernah menganggap itu sebagai sebuah halangan namun justru sebaliknya kami sangat menikmati udara dingin segar yang terus saja kami hirup. Kami bahkan memutuskan untuk berjalan kaki menelusuri jalanan kota Seoul yang ramai dan bersih.

***INFORMASI SEPUTAR KOTA SEOUL***
  1. Seperti halnya di Indonesia, di jalanan kota Seoul kita akan sering menjumpai para pegadang kaki lima yang berjualan di trotoar jalan. Dagangan mereka antara lain makanan seperti roti, sate ikan atau babi, dan makanan tradisional Korea lainnya. Selain itu karena sedang dilanda demam K-Pop, kita dengan muudah bisa menemukan banyak aksesoris mengenai K-Pop mulai dari poster, CD lagu, notes, payung, kalender, mug dan masih banyak lagi dengan tampang para artis K-Pop terjiplak jelas.
  2. Di Korea mobil-mobil yang berseliweran di jalanan umumnya hanya mobil asal pabrikan Korea dan Eropa.
  3. Di jalanan sangat jarang ditemukan pengendara motor. Dan jikapun ada, pengendara motor sepertinya sering ugal-ugalan karena mereka bisa mengakses trotoar jalan dan bisa memutar ke manapun mereka inginkan.
  4. Di kota Seoul, banyak sekali gedung-gedung perbelanjaan dan perkantoran yang menjulang tinggi dengan TV layar raksasa yang menampilkan banyak wajah familiar bagi orang Indonesia (maksudnya artis-artis K-Pop). Selain itu, di setiap sudut jalan bisa dengan mudah kita temukan kuil-kuil yang masih dijaga dan berdiri dihimpit gedung-gedung perkantoran. Maka tidak heran jika kami bisa mengatakan bahkan Korea adalah negeri modern tanpa meninggalkan unsur tradisionalnya.
Banyak sekali kuil dan bangunan tradisional di tengah kota

Kuil lain di sekitar Distrik Jonggak 

Sejenis Tugu yang dibangun di tengah kota

Jalanan sepi di Seoul

Deretan pepohonan tanpa daun


Kami hanya berjalan mengelilingi kota dan sesekali masuk ke dalam pertokohan dan Lotte Departemen Store yang tampak berdiri kokoh. Lotte sendiri merupakan perusahaan asal Korea yang sangat sukses baik di Korea maupun di luar negeri (termasuk Indonesia). Setelah puas berkeliling dan melihat jajanan tradisional masyarakat Korea, kami akhirnya memutuskan untuk segera menuju ke Kedutaan Besar Nepal untuk mencari teman kami Hye Jin. Kami memilih untuk naik MRT karena sangat tidak dimungkinkan untuk berjalan kaki. Untuk menggunakan Seoul City Pass sangatlah mudah dan hampir mirip seperti yang sering kami gunakan selama di Singapura. Untuk tiket sekali jalan, mesin di pintu masuk MRT akan memotong saldo kita sebesar 10.500 rupiah untuk semua jarak dekat. Namun ketika memasuki stasiun-stasiun MRT di Seoul, jangan berharap kita diberi banyak kemudahan seperti di Singapura karena sebagian besar stasiun MRT di Seoul mengusung tema yang hampir mirip dengan MRT di Paris yang tidak menyediakan eskalator sehingga kita harus puas dengan menaiki dan menuruni tangga. Sementar itu jika kita bertemu dengan stasiun interchange, kita harus berjalan cukup jauh untuk sampai di statiun berikutnya.

***TEKNOLOGI DI KOREA***
Korea adalah negara yang sangat maju terutama jika berkaitan dengan teknologi dan jaringan internet. Selain itu orang-orang Korea (walaupun dengan keterbatasan dalam berbahasa Inggris) umumnya sangat ramah dan suka menolong. 
Buktinya, beberapa kali kami tersesat dan menanyakan jalan maka orang-orang Korea yang kami temui akan langsung mengeluarkan smartphone mereka dan menunjukkan jalan kepada kami. Bahkan beberapa kali kami justru diantarkan hingga ke tempat yang ingin kami tuju padahal kami tidak memiliki arah tujuan yang sama.

Untuk sampai di Kedutaan Besar Korea, kami masih harus berjalan kaki dari stasiun MRT terdekat dan berjalan kaki di Korea adalah perjuangan yang begitu berat. Hal ini disebabkan struktur tanah di Seoul tidak rata dan berbukit. Sehingga tidak heran jika terkadang kita tidak bisa melihat di mana ujung jalan karena di hadapan kita adalah jalanan berbukit kecil dan ketika melewatinya, kita akan menemukan jalanan yang menurun dan kembali lagi kita akan menemukan jalanan mendaki. Mungkin itulah sebabnya orang di Korea pada umumnya tidak berbadan gemuk karena mereka sudah terbiasa berjalan kaki dengan medan yang berat. Di tengah udara dingin seperti itu, jalan kaki menjadi sebuah pengalaman yang baru bagi kami.

Kami sampai di Kedutaan Besar Nepal di Seoul tepat pada jam makan siang sehingga Hye Jin bisa keluar kantor dan mengajak kami untuk makan di restoran favoritnya yang berjarak tidak jauh. Hye Jin sangat senang ketika akhirnya bertemu lagi dengan Dephie. Siang itu kami ditraktir makanan berbentuk berat yang dibentuk bulat kecil seperti kelereng dan soup rumput laut. Awalnya aku masih kesulitan makan makanan Korea terutama kimchi (sampai saat inipun aku masih tidak suka kimchi) namun restoran yang kami kunjungi cukup nyaman dan pelayanan yang begitu ramah. Tentu saja semua makanan di Korea selalu menyediakan kimchi, bahkan apapun menu makannya. Setiap kami makan, pasti selalu ada sepiring kimchi di atas meja dan orang Korea tidak merasa makan tanpa makan kimchi.


Setelah mengobrol dan melepaskan kangen, akhirnya kami terpaksa harus berpisah dengan Hye Jin karena jam istirahat makan siangnya telah selesai. Setelah mengucap salam perpisahaan, kami akhirnya memutuskan untuk meneruskan perjalanan kami yaitu menuju Namdaemun Market yang hanya berjara 15 menit jika berjalan kaki dari kantor Hye Jin. Namun untuk sampai di sana memang dibutuhkan perjuanan karena kami harus kembali mendaki jalanan berbukit. Ketika hendak ke Namdaemun Market, kami bisa melihat jika Seoul Tower menjulang tinggi di kejauhan. Namun kami tidak memasukkan Seoul Tower sebagai destinasi wisata kami di Seoul karena kami tidak melihat ada yang benar-benar istimewah dari menara itu. Akhirnya setelah meneruskan perjalanan dan melewati beberapa kasino dan bangunan besar, kami akhirnya sampai di Namdaemun Market.

Namdaemun Market sesungguhnya sebuah pasar tradisional yang menjual beragam jenis barang dan berada di luar ruangan seperti Pasar Chatuchak di Bangkok. 

Keadaan di Namdaemun Market. Semua yang kita inginkan ada di sini!
Di pasar ini menjual semua yang kita perlukan, mulai dari pakaian (produk utama), survernir, makanan hingga perabotan rumah tangga. Kami sangat senang berbelanja di Namdemun karena bisa melihat bagaimana keadaan masyarakat Korea secara langsung. Di pasar ini banyak sekali barang yang diobral dengan harga yang begitu murah. Para pejualnya juga begitu baik, ramah dan senang bercanda. Walaupun udara dingin begitu menusuk kulit, namun semuanya itu lama kelamaan menjadi pudar karena kami keasikan berbelanja. Hari itu kami mendapatkan banyak syal dengan harga murah dan juga aku berhasil mendapatkan sebuah mantel musim dingin yang dijual dengan harga 100 ribu rupiah saja.

***TOILET DI NAMDAEMUN MARKET***
Saat hendak pergi ke toilet di Namdaemun Market, aku sempat kesulitan untuk mencari di mana toilet pria karena setiap kali aku bertanya di mana toilet kepada para penjual, mereka akan selalu menunjuk ke arah yang sama: toilet yang di dalamnya penuh perempuan. Awalnya aku sempat heran, namun ternyata ketika aku masuk ke dalamnya, aku bisa menemukan jika di antara 4 bilik toilet yang tersedia, satu diperuntukan kepada pria. Ini sungguh menjadi pengalaman yang unik karena belum pernah aku menemukan jika ada toilet perempuan dan pria yang digabung seperti di Pasar Namdaemun ini.

Setelah berkeliling cukup lama di Namdaemun, tidak disangkah kami sudah menghabiskan berjam-jam waktu kami berbelanja. Maka karena hari sudah mulai sore dan kami ada janji makan malam bersama Hyeong, kami segera memutuskan untuk kembali ke hostel untuk bersiap-siap dijemput Hyeong untuk makan malam.

Untuk sampai kembali ke hostel sangat mudah dengan menggunakan MRT. Saat berjalan menuju hostel, kami mampir ke penjual roti di pinggiran jalan. Kami tertarik melihat roti yang begitu besar (sebesar mangkok mie) yang hanya dijual dengan harga 10 ribu rupiah padahal harga untuk sate ikan satu tusuk saja dibandrol seharga 30 ribu di Korea. Karena terlihat enak, kami memutuskan untuk membeli roti itu. Namun apa yang terjadi, ternyata roti itu sengaja dipanggang berbentuk mangkok hingga mengembang padahal tidak berisikan apapun. Sungguh tidak ada jajanan yang murah di Korea.

Setelah sampai di hostel, mandi dan bersiap-siap, sekitar pukul 6 sore, Hyeong sudah tiba di hostel kami dan segera mengajak kami untuk berangkat bersama mobilnya. Kami begitu senang karena di dalam mobilnya, anak laki-lakinya yang berumur 10 tahun yaitu Eeu Jin sudah menunggu kami. Eeu Jin masih tampak malu-malu karena kesulitan berkomunikasi, terutama kepadaku karena aku sama sekali tidak bisa berbahasa Korea. Akhirnya mobil melaju membawa kami menjauhi hostel hingga melewati Gwanghwamun yang tampak indah dibalut lampu-lampu di malam hari hingga perlahan mobil mulai masuk ke jalanan berkelok. Aku bahkan sama sekali tidak tahu ke mana tujuan kami malam itu.

Sekali lagi aku disadarkan jika orang Korea sangatlah melek terhadap teknologi. Di mobil Hyeong dilengkapi dengan GPS yang benar-benar menggambarkan bagaimana kondisi jalanan yang sedang kami lalu dan benar-benar bisa berfungsi dengan baik.

***INFORMASI KURANG PENTING***
Di Jakarta, aku juga pernah beberapa kali menggunakan GPS di smartphone sebagai penunjuk jalan. Namun bukannya membantu, terkadang fasilitas peta yang tersedia di smartphone justru tidak beroperasi maksimal dikarenakan koneksi internet yang tidak memadai. 
Andaikan kecepatan internet di Indonesia bisa sebagus Korea, semua teknologi yang diciptakan akan bisa dimanfaatkan dengan maksimal pastinya.

Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya mobil menepi dan kami masuk ke dalam sebuah restoran sederhana. Di sana, istri Hyeong dan putrinya Se Hyeon sudah menunggu kami. Mereka begitu senang bertemu dengan kami dan begitu juga kami. Selain itu, Hyeong juga mengajak beberapa temannya untuk ikut makan malam bersama kami. Makanan kami berlimpah hingga aku ragu bisa menghabiskan makanan sebanyak itu. Suasana malam itu terasa begitu akrab dan menjadikannya salah satu malam terbaik kami di Korea.


Barbeque daging sapi dan Kimchi (padahal aku sama sekali tidak suka Kimchi)
Jamur dan tauge di Korea adalah yang paling enak
Kondisi meja makan kami
Bersama keluarga Hyeong

Bersama Hyeong

***KEBIASAAN MAKAN DI KOREA***
Tata cara makan di Korea sungguh berbeda dengan tata cara makan di Indonesia.
  1. Orang Korea itu sangat menjunjung tinggi kebersamaan sehingga tidak heran jika makan di Korea tidak disediakan sendok atau sumpit khusus untuk mengambil lauk pauk. Semua digunakan dengan sumpit dan sendot yang kita gunakan untuk makan.
  2. Orang Korea sangat cinta dengan minuman tradisional mereka: Soju. Sehingga tidak heran jika dalam setiap kali acara makan bersama, soju tidak pernah ketinggalan. Namun anak-anak Hyeong tidak ada yang minum soju. Mereka hanya minum air putih dan juga minuman bersoda. Tapi aku sangat suka soju! Soju di Korea jelas terasa lebih enak dan harganya sangat murah (kurang lebih 30 ribu perbotol). 
  3. Karena kuatnya sikap senioritas, setiap kali ada acara makan malam bersama, Hyeong pasti selalu mengajak juniornya untuk makan bersama dan juniornya harus "melayani" Hyeong dan orang-orang yang lebih tua dari mereka mulai dari menuangkan minuman setiap kali gelasnya kosong, membuka botol minum, hingga memanggil pelayan toko jika ingin menambah makanan.
  4. Orang di Korea makan dengan menggunakan piring dan menu-menu atau side dish yang sangat banyak sekali sehingga tidak heran akan terlihat banyak piring-piring kecil dengan beragam isi yang berbeda (tidak terbayang kan gimana capenya saat mencuci piring).
  5. Orang Korea suka menghabiskan waktu bersama teman-temannya mengobrol sambil makan di restoran. Bahkan dilakukan hampir setiap hari untuk lebih memupuk pertemanan di antara senior dan junior. Sehingga tidak heran restoran merupakan bisnis yang paling menjamur di Korea.
  6. Kimchi... kimchi... dan kimchi... selalu ada di meja makan. Apapun menunya.

Di depan restoran

Setelah kami selesai makan malam dan rasanya sudah sangat kenyang, akhirnya kami semua pergi meninggalkan restoran. Di luar udara semakin dingin karena malam sudah turun. Tapi Hyeong malah mengajak kami berjalan ke pinggir sungai yang sudah membeku dan memulai perang salju. Kami bermain-main bersama salju yang membeku dan rasanya sungguh menyenangkan.


Bermain salju di pinggiran sungai yang membeku

Akhirnya setelah puas bermain, kami mengira jika Hyeong akan segera mengantar kami pulang ke hostel karena hari sudah cukup malam. Kami harus mempersiapkan diri untuk mengikuti konferensi Korea Model United Nations (KMUN) esok terlebih karena ide untuk ikut KMUN yang mendadak dan terlalu sibuk merencanakan perjalanan kami ke Korea, kami sama sekali tidak melakukan persiapan untuk mengikuti KMUN. Parahnya, ini akan menjadi konferensi MUN pertama kami dan kami bahkan belum mengerti banyak dengan apa yang seharunya kami lakukan esok.

Lalu tanpa diduga, Hyeong mengajak kami dan keluarga serta teman-temannya menyebrangi jalan dan mulai masuk ke restoran yang berbeda. Kami bahkan kaget karena kami tidak tahu kalau kami akan makan lagi. Restoran kali ini berbeda dengan restoran sebelumnya karena di restoran ini hanya tersedia daging dan usus babi.

Banner besar di luar restoran

Karena aku dan Dephie non-muslim sehingga kami tidak berkeberatan makan malam untuk kedua kalinya. Sekali lagi, kimchi dan soju tidak pernah kosong dari meja makan kami.

Menu Makanan utama

Bersama putra dan putri Hyeong

Hyeong dan Kedua Juniornya

Acara makan malam kedua berlangsung seru namun kami sudah lumayan kenyang sehingga kami tidak makan terlalu banyak. Kami bahkan menyisakan banyak makanan dan terasa begitu sayang untuk dibuang begitu saja. Setelah banyak mengobrol dan berbagi cerita tentang kehidupan di Indonesia, kami akhirnya memutuskan untuk pulang karena malam sudah semakin larut dan waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Setelah mengucapkan salam perpisahan dengan istri dan anak-anak Hyeong, kami akhirnya kembali ke dalam mobil bersama Hyeong dan dua juniornya untuk membawa kami pulanng ke hostel.

Namun satu hal yang menarik adalah bukan Hyeong yang mengendarai mobil kali ini melainkan seorang pria asing yang disewa Hyeong untuk membawa kami kembali ke hostel. Ternyata setiap kali menghabiskan makan malam dan berkumpul bersama teman, pria-pria di Korea pasti mabuk karena minum banyak soju sehingga mereka akan menyewa supir untuk mengendarai mobil mereka. Sungguh ini merupakan salah satu kenyataan jika orang-orang Korea sangat patuh terhadap hukum dan mengerti bahaya jika mengendarai mobil dalam keadaan setengah mabuk.

Saat melewati jalanan kembali ke hostel, muncul ide Dephie untuk mampir ke pasar Dongdaemun karena terdapat pasar malam di sana. Seperti biasa, jiwa belanja Dephie mulai kumat lagi karena dia masih belum puas berbelanja di Namdaemun Market. Sehingga kami meminta Hyeong untuk mengantarkan kami ke Dongdaemun dibandingkan jika kami harus pulang ke hostel. Namun Hyeong tidak hanya menurunkan kami di Dongdaemun Market namun dia dan kedua juniornya juga ikut menemani kami. Sepertinya dia begitu kuatir jika kami mungkin tersesat. Namun bukannya memberikan kami kesempatan untuk berbelanja, Hyeong malahan mengajak kami untuk masuk ke restoran tradisional Korea lainnya dan mulai memesan makanan lagi.

Oh no!!

Kami sungguh speechless saat itu karena kami tidak sanggup untuk makan lagi. Namun karena kebaikan Hyeong, kami sungguh tidak tega menolak tawarannya.

Hyeong dan juniornya. Makam malam ketiga! Phew...

Fotonya Blur karena Diambil sama Kakek-Kakek yang Punya Restoran

Seperti kata Hyeong, restoran ketiga yang kami masuki malam itu adalah restoran paling khas dan tradisional di Korea. Hyeong sangat ingin kami mencicipi semua makanan Korea dan dia begitu senang karena kami suka makan dan suka makanan Korea. Menu makanan kali ini adalah babi rebus dengan kimchi dan soju yang tidak pernah kosong dari atas meja.

Baru berselang beberapa menit ketika kami memulai makan, teman Hyeong yang lain datang. Pria itu berbadan kekar dan berwajah serius. Dia masuk dengan langkah tegap dan kedua junior Hyeong memperlihatkan jika mereka begitu menghormati teman Hyeong tersebut. Mereka bahkan begitu rajin melayaninya makan. Pria inilah yang membayar makanan di restoran malam itu.

***TEKNOLOGI DI KOREA***
Semua orang di Korea sepertinya mempunyai sebuah kartu sakti yang bisa digunakan untuk bertransaksi baik di restoran maupun ketika menggunakan transportasi umum. Sehingga tidak heran jika mereka jarang menggunakan uang tunai. Bahkan untuk restoran tradisional yang terlihat mirip warteg di Indonesia, pembayaran dilakukan dengan menggunakan kartu sakti mereka yaitu kartu kredit.


Junior Hyeong yang suka melucu

Di luar restoran

We love you Hyeong

Setelah selesai makan, kami akhirnya keluar restoran dan memutuskan untuk pulang karena hari sudah begitu larut dan kami mampunyai agenda penting esok hari. Namun teman Hyeong yang berbadan tegap itu berjalan di antara pertokohan di Namdaemun dan meminta kami untuk mengambil apa saja yang kami inginkan. Aku dan Dephie tercengang beberapa saat dan saling memandang. Awalnya kami mengira jika pria ini kemungkinan besar adalah ketua mafia atau bos preman di Dongdaemun karena ketika pria ini lewat saja, hampir semua pedagang menyampaikan salam dan begitu hormat kepadanya. Terlebih sekarang dia meminta kami untuk mengambil apa saja yang kami inginkan??

Karena kami berdua menolak untuk mengambil apapun (alasannya karena masih bingung dengan status pria itu dan terlebih kami tidak enak karena sudah begitu banyak hal baik yang dilakukan Hyeong kepada kami), kedua junior Hyeong justru yang bersikap lebih agresif. Mereka langsung mengambil dua buah ikat pinggang yang begitu indah dan terlihat mahal. Keduanya diberikan kepada Dephie yang masih bingung dengan apa yang terjadi. Setelah itu, junior Hyeong langsung mengambil sebuah jaket tebal dengan merek Black Yak dan langsung dipakaikan ke badanku. Mereka mengatakan jika ini hadiah dan kami tidak boleh menolaknya.

***BLACK YAK***
Black Yak merupakan merek asal Korea yang sangat terkenal untuk produk mantel musim dingin dan dinilai memiliki kualitas yang paling baik. 
Harganya pun mahal.

Setelah itu kami pulang diantarkan hingga ke hostel. Di dalam mobil akhirnya kami diberitahukan jika pria barusan adalah manajer Dongdaemun dan dia yang mengelolah pasar itu. Kami sungguh shock mendengarnya. Maka tidak heran dia begitu dihormati dan bisa meminta kami untuk mengambil apa saja yang kami inginkan.  

Kami sungguh bersyukur bertemu Hyeong di Korea dan memberikan kami malam yang begitu indah dan sukar untuk dilupakan. Akhirnya setelah mengucap selamat malam, kami akhirnya berpisah dengan Hyeong dan kedua juniornya. Malam itu kami begitu lelah karena telah melewati hari yang panjang di Seoul. Esok hari fokus kami akan dialihkan ke Konferensi KMUN hingga 4 hari kedepan.

Korea sungguh indah... bukan hanya karena musim dingin yang sedang berlangsung, namun dikarenakan kami begitu beruntung bisa bertemu dengan banyak orang yang begitu mengasihi kami....



***RINCIAN PENGELUARAN***
Jajan di Namdaemun: 10 ribu rupiah
Belanja di Namdaemun: 150 ribu rupiah
Total: 160 ribu

PS: Pengeluaran Dephie jelas lebih besar dibandingkan pengeluaranku karena dia selalu lapar mata setiap kali melihat barang-barang yang dijual. Sayangnya aku tidak begitu suka berbelanja...




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar