Senin, 21 April 2014

Experience Seoul, South Korea (HARI KEDUA)

Minggu, 13 Januari 2013

Perjalanan berlanjut.


Kami menaiki kembali pesawat dengan nomor penerbangan yang sama dari Wuhan menuju Qingdao menggunakan maskapai China Eastern. Pukul 7.35 waktu setempat pesawat melaju membawa kami dalam penerbangan yang memakan waktu hampir 2 JAM menembus udara dingin di langit China. Seperti biasa, kami sama sekali tidak kekurangan makanan di dalam pesawat karena makanan yang disediakan BANYAK dan juga ENAK.

***ATTENTION***
Dikarenakan China Eastern adalah maskapai penerbangan milik China 
maka jangan heran jika ada menu makanan tidak halal yang disediakan. 
Misalnya daging babi kering.

Seperti halnya pada perjalanan Singapura menuju Wuhan sebelumnya, di dalam penerbangan kali inipun kami sama sekali tidak menemukan ada seorangpun penumpang yang bukan berkebangsaan China. Kami tetap menjadi satu-satunya orang Indonesia di dalam pesawat ini.

***SEDIKIT CURHATAN***
Berada di antara orang asing seperti ini, kami langsung kangen Indonesia :(

Pukul 9.15 pagi kami akhirnya mendarat di bandara Qingdao dan perasan WAS-WAS itu kembali lagi menyambut kami. Seperti halnya bandara Wuhan, bandara Qingdao kali ini juga tidak terlalu besar walaupun kali ini kami tidak perlu menaiki bis untuk menuju bandara. Seperti yang kami duga, seorang pria dengan postur tinggi besar dan BERSERAGAM MILITER sudah berdiri menyambut kami ketika kami baru saja keluar dari lorong yang menghubungkan pesawat dan bandara. Seolah tidak percaya pada siapa pun, pria ini mengumpulkan semua penumpang dengan BERTERIAK dengan bahasa Mandarin fasih (ya iyalaaah) hingga tidak ada yang tertinggal lalu memimpin jalan mengarahkan kami menuju imigrasi (padahal di sepanjang jalan terdapat tanda yang menunjukkan ke mana arah imigrasi).

Antrean panjang dan kali ini kami tidak berpikiran sama sekali untuk mengambil foto. Karena sudah mendapatkan stay permit sehari di China, kami sudah merasa aman ketika melewati imigrasi Qingdao. Setelah urusan imigrasi selesai, kami segera mengurus bagasi kami karena penerbangan berikutnya akan menggunakan pesawat yang berbeda. 

***RIDICULOUS THING***
Ketika kami sudah mengumpulkan koper kami dan memasukkan ke dalam trolley kecil, mendadak muncul sengatan listrik dari trolley kami. Sungguh! Rasanya menyakitkan. Awalnya kami mengira mungkin ada keanehan dengan genggaman trolley tersebut sehingga kami ganti dengan trolley yang lain. Namun setiap kali kami mendorongnya, trolley akan mengeluarkan sengatan listrik. Kami tertawa geli! Tidak pernah kami rasakan ada kejadian seperti ini sebelumnya. 
PS: Penumpang lain tidak ada yang bermasalah dengan trolley mereka kecuali kami.
PSS: Apa ada kemungkinan trolley di bandara Qingdao bisa mendeteksi orang Non-China???

Akhirnya dengan menggunakan jaket sebagai pelindung dari sengatan listrik, kami bergegas mendorong trolley kami menuju lantai dua di terminal keberangkatan. Suasanan di bandara Qingdao tidak terlalu ramai. Karena waktu transit kami cukup lama di Qingdao, kami memutuskan untuk berkeliling bandara dan mengunjungi toko-toko yang menjual survernir maupun makanan khas Qingdao, yang merupakan kota pelabuhan. Ada beberapa kafe yang tersebar di sepanjang bandara, begitu juga dengan restoran-restoran yang menjual makanan dengan menu seafood. Namun kami sudah kenyang menyantap makanan di dalam pesawat sehingga kami hanya berkeliling.


Restoran seafood yang banyak bertebaran di dalam bandara

Setelah cape memutari bandara dan jepret beberapa lembar foto, kami memutuskan untuk mengunjungi Informasi bermaksud menanyakan apakah ada password wifi gratis yang tersedia. Namun kali inipun kami dihadapkan pada kenyataan jika seolah tidak ada seorangpun warga China yang bisa berbahasa INGGRIS! Bahkan bagian Informasi yang seharusnya mempunyai kemampuan dasar bahasa Inggris pun mustahil ditemui di Qingdao. Setiap kali kami memulai percakapan, wanita di  Informasi itu terus berbicara dalam bahasa Mandarin tanpa mengubris jika berulang kali kami mengatakan jika kami tidak paham bahasa Mandarin sama sekali.

Kira-kira begini bentuk pembicaraan kami:
Dephie: "Miss, do you have password for the wifi?"
Petugas resepsionis: "@$!##!??!%!$!>??!"
Aku: "Miss... do you know! Password!! Pass.... word...." sambil berusaha keras berbicara dengan bahasa tubuh.
Petugas resepsionis: "%$@%#@?@!!$%?@^@"
Aku dan Dephie: (dengan senyum terpaksa) "OK! Xie Xie."

Akhirnya kami menyerah dan lebih memilih untuk duduk-duduk di dalam bandara dan sesekali keluar bandara untuk merasakan udara dingin yang benar-benar dingin. Udara di Qingdao sepertinya hampir sama dengan keadaan di Wuhan. Di luar, kami bisa melihat tumpukan salju yang mulai mencair dan di kejauhan, beberapa gedung tinggi menjulang berselimutkan salju.


Banner raksasa bertuliskan Qingdao
Pukul 1 siang kami sudah bersiap untuk check in dan bergegas meninggalkan Qingdao. Namun sekali lagi kami harus melewati pemeriksaan bandara yang sangat KETAT dan BERLEBIHAN. Aku bahkan harus membuka celana panjangku karena petugas bandara (wanita) ingin memastikan kalau tidak ada yang salah dengan bawaanku. Sungguh menyebalkan

Pukul 13.40 pesawat China Eastern dengan nomor penerbangan yang lain membawa kami menuju destinasi akhir kami: KOREA SELATAN! Sungguh tidak sabar kami untuk segera menginjakkan kaki di Seoul dan merasakan winter yang sesungguhnya!

Penerbangan dari Qingdao menuju Seoul memakan waktu sekitar 2 jam. Pukul 15.50 sang pilot akhirnya mengumumkan jika kami akan segera mendarat di Bandara Incheon. Dari atas ketinggian aku bisa melihat di tengah lautan sudah mulai bermunculan pulau-pulau kecil di tengah perairan. Semakin lama ketika pesawat semakin menurunkan ketinggiannya, kami mulai bisa melihat lebih jelas gundukan berwarna putih seperti bongkahan garam di permukaan pulau-pulau kecil itu. Itu SALJU! Dephie sangat bersemangat! Semakin lama kami bisa melihat jika daratan di sepanjang mata kami memandang melalui jendela kecil pesawat mulai menampakan gundukan salju di mana-mana. SALJU! SALJU ADA DI MANA-MANA. Bagi dua manusia yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di negara tropis seperti kami, melihat salju itu seperti melihat peselancar melihat ombak... seperti Christiano Ronaldo melihat lapangan bola....

"Akhirnya kita sampai," ujar Dephie bahagia. "Kita sampai di negeri Park Yoo Chun!"

***ADD ON INFORMATION***
Saat itu Dephie sedang tergila-gila dengan drama Korea yang berjudul I Miss You. 
Aktor utamanya adalah Park Yoo Chun.

Akhirnya setelah perjalanan panjang, kami tiba juga di Seoul, Korea Selatan! Anyeong Seoul!


Seoul, Unforgettable City

Betapa senangnya kami ketika pesawat akhirnya berhenti total, pintu pesawat terbuka, hingga akhirnya untuk pertama kali kami menginjakkan kaki di bandara Incheon. Kami bahkan terus tersenyum sembari membayangkan perjalanan super panjang yang telah kami lalui untuk bisa merasakan udara dingin Korea.


Bandara Incheon sangat indah dan hampir mirip dengan bandara Changi di Singapura; dua-duanya mengedepankan kebersihan, desain modern, dan berkelas. Itulah kenapa World Airport Award memahkotai kedua bandara tersebut sebagai bandara terbaik di dunia. Satu hal lagi yang menyenangkan tentang Korea adalah jaringan internet yang super cepat di manapun dan yang paling penting GRAATIIISS!

***SEPUTAR INTERNET DI KOREA***

  1. Korea merupakan negara yang memiliki jaringan internet tercepat di dunia.
  2. Di setiap sudut Seoul, kami dengan mudah mendapatkan jaringan wifi gratis tanpa password dengan kecepatan yang luar biasa.
  3. Kami bisa men-download, browsing di MRT, kafe, daerah seputar perkantoran, dan tentunya di hostel tempat kami menginap.
  4. Kami tidak perlu membeli simcard selama di Korea karena kami tidak akan kesulitan dalam mengakses internet terlebih narsis di Facebook dan Path.
Ketika kami sampai di bagian imigrasi, tidak ditemukan adanya petugas yang mengenakan seragam militer seperti layaknya di China dan sebaliknya, kami merasa sangat diterima di Korea. Namun sepertinya jumlah kunjungan turis ke Korea sangat tinggi di musim dingin saat itu. Karena kami harus mengantre panjang untuk mendapatkan cap di paspor kami. Satu hal yang penting untuk diingat adalah untuk mengisi formulir kedatangan yang banyak tersedia di sekitar barisan antrean menuju imigrasi. Karena setelah kami mengantre panjang ternyata kami lupa mengisi formulir kedatangan sehingga kami harus keluar dari barisan dan mulai mengantre di barisan turis yang sepertinya tidak pernah berakhir.

Dikarenakan bandara Incheon berukuran cukup besar sehingga kita harus menaiki sky train menuju sisi lain bandara untuk mengambil bagasi. Setibanya kami di tempat baggage claim ternyata koper-koper kami sudah diletakan di atas lantai karena kami melalui proses yang lama di imigrasi. Keamanan di bandara sepertinya sangat dijaga karena bagasi kami ditaruh dengan rapi di atas lantai.

Untuk sampai ke pusat kota Seoul, banyak pilihan transportasi yang bisa dipilih antara lain dengan menggunakan taksi, bus limousine atau menggunakan MRT yang langsung menghubungkan bandara dan pusat kota. Tentunya kami memilih untuk menggunakan MRT dikarenakan harganya yang lebih murah dibandingkan jika kami harus menaiki bus apalagi taksi. 


Peta Jalur MRT Seoul
Jika kita melihat peta MRT Seoul jelas akan berbeda sekali dengan tampilan peta MRT Singapura. Seoul merupakan kota yang besar dan jalurnya pun sangat banyak. Kami kemudian mencari jalur MRT dan menemukan loket penjualan tiket. Di sini kami memilih loket penjualan tiket yang bukan mesin dan kami diberitahu jika untuk sampai di kota, kami harus membeli Single Journey Ticket dan menuju Seoul Station (jalur satu) dan ketika sampai di Seoul Station, kami bisa mencari mini market atau 7 Eleven untuk membeli Seoul City Pass karena kami akan berada lama di Seoul. Seoul Station sendiri merupakan stasiun utama di Seoul. Untuk sampai di stasiun ini, kami harus transit di Stasiun Bupyeong dan mengambil jalur 1 menuju Seoul Station. Untuk membaca peta jalur MRT Seoul tidaklah susah karena di setiap jalur diberikan warna yang berbeda dan jika ingin lebih memudakan lagi, kita bisa mengandalkan nomor jalur MRT yang tertulis di setiap ujung stasiun.


Single Journey Ticket MRT Seoul


Wahana Ice Skating di Bandara Incheon 

Satu hal yang berkesan ketika kami sedang berdiri menunggu kereta datang, kami bertemu dengan seorang bapak yang sudah tua dan ternyata dia jago berbahasa INDONESIA. Bayangkan, belum sehari kami berada di Korea, kami bahkan sudah bisa bertemu orang yang mengingatkan kami pada Indonesia. Bapak ini sedang menunggu kereta bersama istri dan cucu-cucunya. Ternyata sekitar 15 tahun silam, bapak ini pernah bekerja di perlabuhan di Surabaya selama lebih dari 10 tahun. Bahkan dia sudah pernah ke Sumatera dan mengelilingi Pulau Jawa. Kami sungguh berkesan karena bapak ini walaupun sudah sangat tua namun dia masih bisa berbahasa Indonesia dengan begitu lancar.

Kereta di Korea mempunyai interval kedatangan yang tidak lama sehingga kami dengan cepat bisa berpindah dari bandara Incheon dengan kemegahan bangunannya dan mulai berpindah ke jalanan kota Seoul yang sudah dipenuhi tumpukan salju di mana-mana.

***MENGENAI MRT SEOUL***
  1. MRT Seoul pada dasarnya sangat mirip dengan MRT di Singapura dan sangat nyaman. 
  2. MRT di Seoul mempunyai jaringan wifi yang super cepat di sepanjang gerbong.
  3. MRT di Seoul mempunyai aroma yang kurang sedap (tercium seperti bau Soju). Umumnya banyak orang yang masuk ke dalam kereta dengan wajah memerah sehabis minum soju.
  4. Sebagian besar bangku diperuntukan bagi orang tua dan wanita. Selain itu, di Korea itu banyak sekali orang tua yang ditemui sehingga tidak heran bangku-bangku akan selalu penuh oleh orang tua.
  5. Karena kesibukan masyarakat Korea, maka sebagian besar orang Korea memanfaatkan waktu tempuh di dalam MRT untuk menonton drama atau acara TV melalui ponsel mereka.
  6. MRT di Seoul memperbolehkan orang untuk berjualan tapi pedagang tidak kami jumpai setiap saat.
Sampai di Seoul Station, kami segera mencari 7 Eleven untuk membeli Seoul City Pass seharga 30 ribu rupiah yang bisa di-top up dengan sejumlah uang dan jika pada akhirnya masih ada saldo, uang kita bisa di-refund di konter 7 Eleven di manapun (kita bisa menemukan konter 7 Eleven di bandara Incheon ketika hendak pulang ke Indonesia). Kami masing-masing membeli satu kartu Seoul City Pass dan membeli saldo sebesar 300 ribu rupiah yang cukup digunakan dalam dua minggu ke depan. Kartu Seoul City Pass tidak dapat di-refund namun tetap bisa digunakan jika suatu saat kembali lagi ke Korea. Kartu itu bisa jadikan sebagai kenang-kenangan dari Seoul.


Seoul City Pass. Banyak pilihan gambar yang bisa pilih.

Tanpa menunggu waktu lagi, kami segera bergegas menaiki MRT untuk menuju Stasiun Jonggak di mana hostel kami berada. Namun satu hal yang perlu diingat ketika ingin menaiki MRT dengan bawaan koper besar adalah, jangan menggunkan pintu masuk kecil bagi perorangan ke dalam stasiun karena palang yang membatasi tidak akan pernah terbuka selama ada koper yang kita bawa. Hal ini disebabkan karena pintu masuk ke dalam stasiun memiliki sensor di bawah (sekitar paha) yang akan otomatis mengunci pintu masuk jika berbenturan dengan benda keras seperti koper. Tapi jangan takut, karena pihak MRT sudah menyediakan pintu masuk khusus yang lebar di mana pintu masuk ini diperuntukan bagi orang yang membawa barang bawaan dan juga para pengguna kursi roda.

Untuk sampai di Stasiun Jonggak, kami mengambil arah menuju Stasiun Uijeongbu Bukbu di Jalur 1 dan hanya berjarak 2 stasiun dari Seoul Station. Ingat, MRT di Korea memiliki banyak pintu keluar atau EXIT sehingga untuk  menuju hostel, kita harus melalui EXIT 2. Ketika kami tiba di Stasiun Jonggak dan sambil menggerek koper besar kami, saat itu pula kami merasakan bagaimana udara musim dingin di Seoul. Udara terasa begitu dingin dan menusuk ketika kami sampai keluar dari stasiun. Sekeliling kami jalanan berselimutkan salju. Orang-orang tampak berjalan dengan terburu-buru dan perkantoran serta bangunan-bangunan di sekitar kami tampak indah dan berbeda. Tulisan Hangeul terlihat di mana-mana seolah ingin menyadarkan kami jika kami akhirnya tiba di KOREA!

Selama di Korea kami akan menginap di SEOUL HOSTEL CENTER di daerah perkantoran Jonggak. Seoul Hostel Center akan menjadi hostel pertama yang kami tempati karena kami berdua belum pernah menginap di hostel sebelumnya. Alasan aku memilih untuk menginap di Seoul Hostel Center karena mereka hostel yang menyediakan kamar bukan dormitori sehingga kami tidak perlu tidur dengan orang asing. Selain itu, karena menginap cukup lama (10 malam), kami mendapatkan harga yang lebih murah dengan membayar 25 ribu WON permalam/kamar. 

***CATATAN***
Harga 25 ribu WON adalah harga kamar tanpa jendela dan harus menginap minimal 10 hari. Harga akan berbeda untuk tipe berjendela dan durasi menginap yang lebih singkat.

Untuk mencapai Seoul Hostel Center, kami hanya perlu berjalan beberapa menit dari Stasiun Jonggak dan tepat berada di seberang Starbuck, kita bisa melihat sebuah bangunan dengan plang tulisan Korea besar-besar. Jangan pernah berharap tulisan itu berbunyi Seoul Hostel Center atau ada tulisan dalam bahasa latin yang menjelaskan keberadaan hostel ini karena kita tidak akan pernah bisa menemukannya. 

***KECURIGAAN KAMI***
Sepertinya ini hostel ilegal karena tidak memasang plang nama. Sangat dimungkinkan jika pemilik hostel tidak ingin membayar pajak. #hanya spekulasi

Awalnya kami sama sekali tidak tahu di mana letak hostel tersebut karena bangunan yang kami rujuk melalui peta yang ditampilkan di website hostelnya bukanlah sebuah hostel melainkan sebuah rumah makan sementara basement-nya merupakan bar. Tapi karena udara malam yang sangat dingin, kami memutuskan untuk masuk ke dalam bangunan itu dan mendapati sebuah tangga ke lantai dua. Di lantai dua inilah ada sebuah rumah makan tradisional Korea dan di sebelahnya terdapat sebuah lift kecil. Ternyata hostelnya ada di lantai 6 dan bisa diakses dengan menggunakan lift.

Dengan bawaan yang banyak dan udara yang dingin menusuk, kami sampai di meja resepsionis yang kecil di mana seorang pria yang masih muda dan bisa berbahasa Inggris dasar menyambut kami dengan wajah juteknya. Setelah membayar 250 ribu WON untuk menginap selama 10 hari, kami akhirnya diantarkan ke kamar. Dan apa yang kami temukan?! Sebuah kamar TERSEMPIT yang pernah kutemukan. Ukuran kamar ini hanya seluas 2X2 meter (kemungkinan) karena ukurannya sangat kecil. Kami mendapatkan tempat tidur bertingkat dan aku sangat bersyukur karena Dephie memilih untuk tidur di atas.


Peta Seoul Hostel Center Lantai 6

Awalnya kami cukup shock melihat kondisi hostel kami (terutama kamar yang begitu sempit) tapi pada akhirnya, kami begitu bersyukur karena menginap di Seoul Hostel Center. Bahkan hostel ini adalah hostel terbaik yang pernah kutempati.

***ALL ABOUT SEOUL HOSTEL CENTER***
  1. Harganya relatif lebih murah dibandingkan hostel lain di Seoul
  2. Mempunyai pilihan kamar dengan menggunakan jendela dan tidak
  3. Di setiap kamar memiliki pemanas di lantai sehingga di musim dingin, kamar akan terasa begitu hangat bahkan terkadang justru terasa terlalu panas sehingga beberapa kali kami harus membuka pintu kamar supaya kami tidak mati kepanasan
  4. Lokasi super strategis yang pernah ada. Kami baru menyadari hal ini di hari ketika kami di Seoul. Hostel ini menghubungkan kita ke GwangHwaMun Square, CheongGyeCheon Stream, GyeongBokGung Palace, Sejong Cultural Center, InSaDong, MyeongDong dan tempat-tempat lain hanya cukup BERJALAN KAKI!!
  5. Seoul Hostel Center memiliki tiga lantai yakni di lantai 5, 6, dan 7. Kami memilih lantai 6 karena dekat dengan dapur. Sementara kamar mandi wanita ada di lantai 6 dan kamar mandi pria ada di lantai 7. Jadi cukup adil untuk kami berdua.
  6. Kamar mandinya sangat BERSIH, lengkap dengan semprotan air panas
  7. Sebelum masuk ke dalam kamar, kita harus melepaskan sepatu kita dan meletakkannya di dalam rak sepatu. Sebagai gantinya sudah disediakan sendal untuk dipakai di dalam hostel.
  8. Dapurnya luas dan terdapat TV untuk menonton. Kita juga memperoleh akses bebas ke air panas, penggunaan microwave, kulkas, piring, sendok, mangkok, dan semua yang bisa ditemukan di dapur. Bahkan ada kopi sachet yang bisa diminum gratis sesukanya
  9. Di dalam dapur ada magic jar yang digunakan untuk memasak nasi dan jangan malu untuk memakannya karena nasi itu disediakan GRATIIIIS
  10. Di lantai 7 ada tiga komputer yang memiliki jaringan internet dan hampir di setiap lantai mempunyai jaringan internet yang cepat (aku bahkan men-DOWNLOAD banyak film saat waktu luang di hostel hihihihi)
  11. Di lantai 7 juga terdapat mesin cuci yang sangat modern. Cukup masukan pakaian kita dan deterjen yang sudah disediakan oleh hostel, mesin cuci akan mencuci dan mengeringkan baju kita. Setelah itu kita bisa menjemurnya di sisi lain lantai 7
  12. Di lantai 7 juga ada ruangan kecil tempat kita bisa menggunakan telepon gratis. Tapi sayang Indonesia tidak termasuk dalam daftar sehingga tidak bisa dipergunakan untuk menelepon ke rumah. Selain itu disediakan juga cermin besar, setrikaan, dan juga hair dryer.
  13. Si pemilik hostel rada jutek orangnya walaupun bisa berbahasa Inggris dengan baik
  14. Untuk informasi lebih lanjut tentang Seoul Hostel Center bisa mengakses website-nya di sini
Setelah kami unpack semua koper, kami memutuskan untuk makan malam di dapur. Dan seperti yang banyak kubaca di internet, ketika traveling ke sebuah negara dan menginap di hostel, ada satu keuntungan yang selalu didapatkan oleh para traveler: bertemu traveler lain dan menambah teman. Saat itu di dapur kami berkenalan dengan dua orang wanita, yang satu berasal dari Inggris sementara lainnya berasal dari Hongkong. Tamu dari Inggris ini akan pulang esok hari sehingga kami tidak banyak ngobrol dengannya, walaupun menurutnya dia sudah menghabiskan tiga minggu liburannya di Korea. Sementara gadis muda dari Hongkong yang bernama Savoypaper atau dipanggil Savoy ini sudah berada di Korea selama 3 BULAN! Wow! Bukan waktu yang singkat untuk menghabiskan liburan apalagi dia berlibur seorang diri. Savoy ini adalah salah satu mahasiswa jurusan arsitektur dan dia sangat ramah. Dia banyak berbagi pengalamannya selama di Korea dan dia begitu menikmati Seoul khususnya.

Malam mulai turun dan kelelahan akibat perjalanan panjang akhirnya mengalahkan kami. Kami memutuskan untuk segera istirahat karena hari yang lebih panjang menanti kami ketika matahari musim dingin di Seoul menampakkan wujudnya esok hari.

Selamat datang di Seoul, Korea Selatan!

***RINCIAN PENGELUARAN***
Tiket MRT Single Journey: 11.000
Beli tiket Seoul City Pass dan isi saldo: 330.000
Hostel untuk 10 malam: 1.250.000
Total: 1.591.000


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar