Sabtu, 19 April 2014

Experience Seoul, South Korea

Siapa yang tidak SENANG jika berlibur ke negara 4 musim ketika salju merangkak turun?!

Terlebih untuk orang Indonesia yang notaben merupakan negara tropis, kesempatan untuk menginjakkan kaki di KOTA SEOUL pun merupakan kesempatan langkah yang sulit kutolak. Membayangkan melihat tumpukan air beku di sepanjang trotoar jalan... merasakan hembusan butiran salju selembut es serut yang menyelimuti langit... hingga aktifitas membuat boneka salju sudah terbayang bahkan jauh sebelum rencana menginjakkan kaki di negara MC MONG ini terwujud. WOW!



di tengah gundukan salju di Seoul
Semuanya berawal dari MIMPI, obroral iseng di pojok Kafe Korea di Perpustakaan Pusat UI, hingga akhirnya ketika aku berdiri di hamparan salju di lapangan utama Korea University, Seoul—di mana sepanjang mata memandang tumpukan salju seputih awan di kejauhan tak henti-hentinya memanjakan mata—aku baru percaya jika semua ini NYATA dan telah kulalui. 

Semuanya bermula pada sore mendung di bulan Desember 2012 di Kafe Korea, Perpustakaan Pusat UI—tempat nongkrong favoritku bersama Dephi, sahabat terbaikku. Seperti biasa, kami selalu menduduki sofa di pojok lantai dua dengan hanya memesan dua cangkir cappuccino hangat dan tentunya memanfaatkan fasilitas wifi gratis untuk melakukan research tentang semua mimpi yang hendak diwujudkan. Sebagai dua mahasiswa yang sama-sama kuliah di UI—aku kuliah di Fakultas Ekonomi sementara Dephie menuntut ilmu di Fakultas Hukum—bukanlah hal yang gampang untuk merencanakan liburan keluar negeri, terutama mengunjungi Korea Selatan yang berjarak 5.283 km jauhnya di timur laut. Beuh... jauh juga tuh ya! Bahkan jika melihat peta pun rasanya akan sulit sekali untuk mencapai tempat itu dengan kantong mahasiswa seperti kami. 

Ide pertama muncul dari Dephie. Dia ingin sekali kembali lagi ke Korea...


***ADD ON INFORMATION***
Dephie sudah pernah ke Korea sebelumnya di tahun 2008 
ketika dia terpilih sebagai salah satu delegasi Indonesia pada kegiatan Youth Camp

...terlebih karena Dephie juga sudah menggenggam gelar sarjana Humaniora Jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI, maka lengkap sudah jika rencana ke Korea akan menjadi perjalanan yang tidak sulit—selain kendala keuangan—bagi kami. Aku bahkan begitu tertarik sekali untuk mengunjungi Korea terlebih tahun 2012 merupakan masa berjayanya K-POP di mana hampir seluruh dunia larut dalam pengaruhnya yang luar biasa. #Samar-samar lagu-lagu Super Junior masih terdengar jelas....


Namun sebagai mahasiswa, jiwa akademis kami pun muncul. Selain ingin jalan-jalan ke Korea, kami juga berkeinginan mendapatkan “sesuatu” yang sifatnya akademis dari perjalanan tersebut. Oleh karena itu, dengan merogok kantong tabungan selama ini, akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti konferensi international KMUN (Korea Model United Nations—Winter Conference 2014) yang diselenggarakan selama 4 hari berturut-turut dari tanggal 15-18 Januari 2014 di Korea University, Seoul. Namun sialnya, ketika pertama kali kami menyadari konferensi ini, kami sudah hampir terlambat untuk melakukan pendaftaran dan pembayaran biaya registrasi sebesar $200!! Bahkan ketika kami sudah mendaftar, kami masuk daftar tunggu dikarenakan banyaknya mahasiswa yang mendaftar untuk mengukuti kegiatan tersebut.

Logo Korea Model United Nations 2013

***QUESTION AND ANSWER***
Apakah Model United Nations (MUN)?

MUN adalah sebuah simulasi konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa di mana delegasi yang ikut serta dalam kegiatan ini akan berperan sebagai wakil dari negara anggota PBB dari seluruh dunia. Dalam simulasi ini, para delegasi akan bernegosiasi, berdebat, hingga bertindak sesuai dengan kepentingan negaranya dalam membahas mengenai isu-isu internasional. Delegasi akan membahas tentang bagaimana memecahkan masalah global dengan menghormati kedaulatan setiap negara dan berusaha mencari jalan tengah untuk mendapatkan solusi terbaik bagi dunia. Setiap delegasi harus memperjuangkan usulan negara mereka yang merupakan manifestasi dari kebijakan nasional asing mereka serta memberikan ide-ide kreatif dan efektif untuk mengatasi masalah global seperti: kemiskinan, perubahan iklim, permasalahan gender, keamanan internasional, populasi dunia, dan masih banyak lagi.


Namun semua sudah ada jalannya. Ketika kami dinyatakan masuk menjadi delegasi KMUN, kami langsung membayar biaya registrasi secepatnya padahal ketika kami cek semua tiket penerbangan ke Seoul, semuanya mencetak angka di atas 7 juta rupiah—sungguh bukan angka yang bersahabat dengan kantong kami saat itu. Terlebih jika mengingat biaya hidup yang tinggi di Korea, kami semakin tersudutkan untuk melupakan ide ke Korea dan merelakan biaya $200 kami yang telah ditransfer ke kantong panitia acara. Berhari-hari kami terus mencari kemungkinan tiket pesawat murah yang bisa membawa kami sampai ke Seoul, namun sepertinya musim dingin di Korea menjadikan negara itu sebagai salah satu destinasi liburan favorit terlebih jika keinginan untuk melewatkan liburan musim dingin di Eropa atau Jepang terlalu mahal, Korea jelas merupakan pilihan yang tepat.


Saat itu sehari sebelum liburan akhir tahun 2012 dimulai ketika aku tanpa sengaja menemukan situs Farecompare yang telah mengeluarkan kami dari ide untuk melupakan Korea sebagai tujuan kami di musim dingin itu. Farecompare merupakan salah satu situs penyedia layanan pencarian tiket pesawat yang begitu mudah dioperasikan dan memberikan solusi jika kita ingin menemukan pesawat dengan harga murah. Bayangkan, dengan keyword pencarian tiket pesawat dari Singapura ke Seoul, Korea Selatan, kami mendapatkan tiket promo hanya 3,4 juta rupiah return flight China Eastern dengan catatan transit sebanyak dua kali di Wuhan dan Qingdao untuk perjalanan menuju Seoul dan kami juga harus transit di Qingdao dan Nanjing pada penerbangan pulang dengan total perjalanan selama 14 jam. WOW! Bukan perjalanan singkat, namun kami diberikan kesempatan untuk menginjakkan kaki di 3 kota (tepatnya bandara) berbeda di China.


Rute Perjalanan Menuju Seoul, Korea Selatan. Sungguh perjalanan yang panjaaaaang!!

Sebenarnya harga tiket China Eastern itu cukup mahal jika kami beruntung mendapatkan tiket promo langsung dari Jakarta menuju Korea Selatan dengan catatan membeli dari beberapa bulan sebelum keberangkatan. Namun dengan hanya memiliki waktu kurang dari dua minggu, kami rasa harga itu sudah cukup masuk akal untuk membawa kami berlibur musim dingin ditambah mengikuti Konferensi KMUN 2013. Ketika pertama kali mendapatkan tiket promo tersebut, kami sungguh senang walaupun waktu tempuh yang jauh lebih lama (waktu tempuh penerbangan normal dari Jakarta-Seoul hanya 6 jam 30 menit) namun dengan bonus bisa singgah ke China dan melihat bagaimana keadaan China, tampaknya ide perjalanan transit ini bukan pilihan yang buruk (bisa jadi!).


Tanpa berpikir panjang dan dihempit waktu yang begitu singkat, kami memutuskan untuk membeli tiket tersebut dan mencari penerbangan yang akan membawa kami menuju Singapura. Akhirnya kami mendapatkan tiket Jakarta-Singapura dengan menggunakan maskapai Jetstar seharga 440 ribu rupiah dan tiket Singapura-Jakarta seharga 660 ribu rupiah menggunakan maskapai Lion Air (sudah termasuk bagasi 20 kilo). Ternyata jika ada niat, liburan keluar negeri bukanlah ide yang tidak masuk akal untuk dijalankan.


Sementara itu, untuk mendapatkan visa Korea Selatan bukanlah perkara yang susah bahkan ide untuk menggunakan pihak ketiga (travel agent) merupakan ide yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh kami. 


***OUR TRAVEL STYLE***
Backpacker! Yeah itu konsep kami dalam berlibur. 
Walaupun dikarena liburan yang selalu mendadak, 
kami terkadang justru menghabiskan banyak biaya yang seharusnya tidak perlu. 
Tapi kami tetap BACKPACKER! 


 Selain demi alasan menghemat biaya, ternyata mengurus semua dokumen yang diperlukan untuk meng-apply visa tidaklah susah. Coba saja tengok di website resminya di sini untuk mengetahui lebih detail tentang proses pengajuan visa.


 Adapun dokumen-dokumen yang diperlukan untuk mendapatkan visa Korea Selatan, antara lain:
  1. Formulir aplikasi permohonan visa (bisa diunduh di sini)
  2. Foto berwarna 1 lembar ukuran 4 x 6 cm yang ditempelkan pada formulis aplikasi permohonan visa (warna background tidak menjadi masalah)
  3. Paspor asli (akan dititipkan di Kedubes Korea Selatan di Jakarta) dan fotokopiannya meliputi halaman identitas depan dan belakang serta visa/cap dari negara-negara yang telah dikunjungi.
  4. Surat referensi bank (bisa menggunakan tabungan orangtua jika masih pelajar/mahasiswa)
  5. Fotokopi kartu mahasiswa atau surat keterangan mahasiswa dari kampus
  6. Surat sponsor orangtua (bagi pelajar/mahasiswa)
  7. Membayar biaya visa (untuk single visa saat ini harganya 480 ribu rupiah (waktu itu masih 300 ribu rupiah))

Pengajuan visa Korea Selatan sangat mudah jika semua dokumen tersebut telah lengkap dan dibawa ke Kantor Kedutaan Besar Korea Selatan, tanpa perlu dilakukan wawancara dan dalam waktu 5 hari kerja visa sudah bisa diambil mulai pukul 13.30-16.30.
Setelah visa di tangan, semuanya menjadi lebih mudah dan kami siap untuk menuju Seoul, Korea!

Penampakan Visa Korea


***CHECK LIST***
Persiapan sebelum melakukan perjalanan dilakukan secara matang oleh kami berdua.

Adapun check list kami antara lain:
  1. Tiket pesawat Lion Air Jakarta-Singapura (return)
  2. Tiket pesawat China Eastern Singapura-Seoul (return)
  3. Paspor
  4. Perlengkapan konferensi KMUN (Jas, sepatu, dasi, laptop, notebook)
  5. Perlengkapan mandi
  6. Baju hangat (jaket, sweter, syal, sarung tangan, kupluk)
  7. Makanan ringan untuk sarapan (misalnya energen dan mie instan)

Oke, karena semua perlengkapan sudah disiapkan, itinerary sudah lengkap (kami menghabiskan beberapa hari untuk melakukan riset melalui internet), dan menukar uang won (saat itu kurs 1 won = Rp. 9.800,-) kami siap untuk meninggalkan keluarga dan negeri tercinta untuk melalangbuana ke negeri gingseng selama 16 hari. Ya benar! Lebih dari dua minggu!


***RINCIAN PENGELUARAN*** 
Total Pengeluaran Pra Perjalanan, antara lain: 
Tiket pesawat (total): 4,5 juta 
Biaya konferensi KMUN : 2 juta
Biaya Visa: 300 ribu
Total: Rp. 6,8 juta 
NB: harga tiket bisa sangat ditekan jika Anda beruntung 
mendapatkan tiket promo dan tidak mengambil resiko 
 tiket penerbangan di high season (musim dingin) 
dua minggu sebelum perjalanan, seperti kami.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar