Minggu, 04 Mei 2014

Experience Seoul, South Korea (HARI KEEMPAT)

Selasa, 15 Januari 2013

Hari ini fokus utama kami adalah KMUN... KMUN... dan KMUN! 

So... lupakan sejenak keinginan untuk mengelilingi setiap sudut kota Seoul sembari memastikan jika kami tahu apa yang harus kami lakukan untuk membawa kami menuju Korea University untuk hari pertama KMUN kami.

Korea Model United Nations (KMUN) Winter Conference yang kami ikuti sudah berlangsung selama 6 tahun berturut-turut dan selalu diselenggarakan oleh Korea University Anam Campus. Sekedar informasi, Model United Nations (MUN) merupakan salah satu kegiatan yang diselenggarakan di banyak negara dari tingkatan SMA dan universitas. Tujuannya adalah memberikan pengalaman kepada para peserta mengenai isu-isu global yang berlangsung serta menyediakan sarana untuk belajar bernegosiasi, berdebat, hingga menjalin pertemanan. Untuk mengetahui tentang kegiatan MUN di berbagai negara dan kapan berlangsungnya, bisa dicek di website resminya di sini


Logo Korea Model United Nations (KMUN-2013)

Untuk mengikuti KMUN kita harus mendaftar sesegera mungkin ketika pendaftaran dibuka karena daftar peserta yang bisa mengikuti konferensi ini sangat terbatas. Selain itu KMUN merupakan salah satu konferensi MUN yang cukup diminati oleh beberapa perserta dari luar Korea, khususnya peserta asal Indonesia yang selalu saja berpartisipasi setiap tahunnya.

Dalam setiap konferensi MUN, peserta diberikan berbagai pilihan untuk mendaftar Student Officer, Administration Staff, ataupun peserta. Untuk mendaftar dan tahu informasi lebih mengenai Korea Model United Nations (KMUN) kita bisa mengakses semua informasi yang dibutuhkan di website resminya di sini

Program yang dibuka biasanya dibedakan menjadi dua, yakni bagi peserta yang pernah mengikuti MUN sebelumnya (experienced) dan bagi peserta pemula di MUN (standard). Setiap tahunnya, agenda yang dibuka berbeda misalnya International Court of Justice (ICJ), International Telecommunication Union (ITU), lain sebagainya. Saat mengikuti KMUN 2013, kami memilih program standard karena kami sama sekali belum pernah mengikuti MUN sebelumnya. Adapun agenda yang kami dapatkan adalah Economy and Social Council (ECOSOC).

***ABOUT ECOSOC***
ECOSOC merupakan satu dari lima badan inti dari PBB yang secara khusus 
bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan kegiatan sosial dan ekonomi di PBB. 
Dengan beranggotakan 54 negara, ECOSOC menyediakan forum khusus untuk membahas 
permasalahan-permasalahan mengenai kegiatan ekonomi dan sosial.
  
Terdapat dua agenda yang akan dibahas oleh delegasi dalam Komite ECOSOC, diantaranya: Krisis Kepadatan Penduduk di Dunia dan Perluasan Penggunaan ODA (Official Development Assistance) atau Bantuan Sosial Bagi Negara-Negara Berkembang. Sehingga sepanjang 4 hari kedepan, para peserta akan membahas semua permasalah mengenai kedua topik tersebut hingga akhirnya menghasilkan resolusi yang disetujui oleh mayoritas delegasi.

Sekitar satu minggu sebelum konferensi dimulai, para delegasi akan dikirimkan email mengenai peraturan yang sudah disusun rapi dalam sebuah booklet. Sepanjang berlangsungnya konferensi, para delegasi diharuskan mengenakan pakaian rapi dan resmi. Pria diharuskan mengenakan jas dan dasi sementara pria harus mengenakan blazer (Dephie bahkan harus membeli banyak perlengkapan untuk mengikuti konferensi ini). Setiap delegasi juga akan mewakili negara-negara yang terdaftar di PBB. Aku mewakili Mongolia dan Dephie mewakili Iran.

Satu tugas penting yang harus dilakukan sebelum berangkat konferensi berlangsung adalah melakukan riset mengenai negara yang akan kita wakili dan bagaimana pandangan negara tersebut tentang agenda yang akan dibahas. Semua riset tersebut dituangkan dalam sebuah halaman yang disebut dengan Position Paper. Position Paper merupakan salah satu bahan yang sangat penting karena melalui position Paper, seorang delegasi bisa mengetahui bagaimana harus bersikap selama berlangsungnya konferensi. Namun para delegasi hanya perlu memilih salah satu agenda dari dua agenda yang dibahas untuk ditulis di Position Paper-nya. Aku dan Dephie memutuskan untuk mengambil agenda Krisis Kepadatan Penduduk di Dunia.

Menulis Position Paper merupakan kegiatan yang menyebalkan karena kami harus melakukan riset mengenai sebuah negara yang asing dan harus menuliskannya dalam sebuah halaman mengenai kondisi negara tersebut sesuai dengan agenda yang akan dibahas. Selain itu dikarenakan waktu yang begitu singkat untuk mempersiapkan liburan serta KMUN, kami tidak punya banyak waktu untuk melakukan riset yang mendalam untuk menulis Position Paper.

Berikut ini contoh Position Paper aku waktu mengikuti KMUN 2013. Ini memang tulisan yang tidak bagus sama sekali karena dikerjakan ngebut dalam satu hari.

***POSITION PAPER***

Korea Model United Nations 2013
(Position Paper)

Committee      : The Economic and Social Council (ECOSOC)
Topic A           : Addressing the Global Population Crisis
Country           : Mongolia

The population in the world currently has reached more than 7 billion and it is predicted to reach 10.1 billion in the next ninety years (2103) according to the medium variant of the 2010 Revision of World Population Prospects. These numbers come from the high-fertility countries, which comprise countries such as Africa, Asia, Oceania, and Latin America. The population density in the world resulted people at risk of poverty; difficulty accessing primary health care, education, job; crime; violence and vandalism. Moreover, the imbalance population density between developed and developing countries will result disproportion development and social life structure on earth.

According to the United Nations Statistic Division, the population number of the Mongolia has reached up to 2,6 million in 2009. However, Mongolia is still in the range of the lowest population density countries in the world with population density of approximately 4 people per square mile. In order to deal with this drop in new babies, the government launched a medal called the "First Order of Glorious Motherhood" along with about $154 for women who have six or more children and a "Second Order of Glorious Motherhood" honor plus $77 for women who have four children. On the other hand, for married young women who had no kids, they had to pay a special tax.

The international community has made the issue of world population crisis as one of the world’s priority concern. On September 1994, The Fifth International Conference on Population and Development was held in Cairo. More than 180 States participated in this event to achieve the effective integrate population issues into socio-economic development proposals and also to gain a better quality of life for all individuals, especially those of future generations. In 1999, the United Nations came into a special General Assembly Session to review and appraise the implementation of the Programme of Action adopted at the 1994 Conference. It seems, the existence of the world population issue has become an important problem of the world.

The government has devoted a lot to projects to support the important of the balance population density around the world. Mongolia government is involved in the international NGOs working on the issues. One of the national priorities is maintaining the average annual population growth rate at no less than 1.8 percent. In 1992, the Ministry of Population Policy and Labor was established in Mongolia and an officer was appointed to deal with population problems. Mongolia put a highly concern about the world population crisis issue because the estimated annual population growth rate of Mongolia now is 1.54 percent; it is projected in the next 20 years, the population will be double.

Mongolian Government believes the population issue is a universal concern because it has expanded worldwide and the impact of the uncontrolled population will hit all nations. It should be maintaining either developed or developing country. And the cooperation between countries could gradually level of the birth rate to the replacement rate. Mongolia has recommended that it is the time for developed countries to support the developing countries to run out from this situation. Mongolia also supports the work of the UN about achieving the Millennium Development Goals which most of the goals refer to the world population issues. World population is increasing every second and it is our responsibility to control it together to support the world sustainable development strategy for a better future.

Setelah semuanya persiapan sudah dilengkapi dan kami sudah berpakaian rapi, pukul 9 pagi kami memutuskan untuk keluar dari hostel dan memulai perjalanan pertama kami menuju Korea University.

***KOREA UNIVERSITY***
Sebelumnya aku pernah menyebutkan mengenai perkerjaan volunteer kami sebagai LO sehingga kami kenal dengan Hyeong?
Nah... saat itu Hyeong membawa 15 mahasiswa dari jurusan olahraga Korea University ke Jakarta. Ya... benar sekali! Mahasiswa dari Korea University yang mempertemukan kami dengan Hyeong dan mendekatkan kami dengan Korea... dan saat ini kami sedang menuju ke kampus itu. Korea University!

Udara di luar hostel begitu dingin menusuk ketika kami keluar dengan pakaian yang begitu formal dan tas berisikan perlengkapan KMUN kami. Untuk sampai ke Korea University, kami menggunakan MRT menuju Stasiun Anam yang lokasinya ternyata sangat dekat dengan hostel. Agenda di hari pertama akan dimulai pukul 12.30 di mana semua delegasi harus mendaftar ulang untuk memastikan keikutsertaan mereka dalam konferensi KMUN.

Namun, kami memutuskan untuk keluar dari hostel lebih cepat dikarenakan kami sudah janji dengan Prof. Hong yang merupakan salah satu professor yang bekerja di Kementerian Perikanan dan Kelautan Korea. Perkenalan dengan Prof. Hong berlangsung di Jakarta ketika beliau menghadiri seminar tentang kerjasama kelautan dengan pemerintah Indonesia. Untunglah kantor Prof. Hong dekat dengan Korea University sehingga ketika kami memberitahukan jika kami akan mengunjungi Seoul, beliau begitu senang dan ingin bertemu kami. Maka kami langsung membuat janji untuk makan siang bersama Prof. Hong sebelum memulai KMUN kami.

***JAMUAN MAKAN ORANG KOREA***
Satu hal yang perlu diketahui tentang orang Korea yaitu mereka sangat bersahabat dan begitu senang untuk menjamu setiap tamunya. Mereka akan sangat senang jika bisa mengundang kita makan bersama terlebih jika kita memperlihatkan sikap menghormati dan menyukai makanannya.

Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk sampai di Korea University. Kesan pertama melihat kampus ini adalah kemegahannya. Bangunan Korea University terlihat begitu mencolok dari kejauhan namun sayangnya mengadopsi ciri khas bangunan barat. Tidak terlihat adanya unsur tradisional walaupun nama kampus ini menyusung nama negaranya. Namun Korea University tetap megah dan indah. Terlebih lapangan utamanya yang membentang luas di mana di tengah-tengahnya terdapat air mancur yang sengaja dimatikan di musim dingin (namun saat itu seluas pandangan yang bisa kami lihat hanya hamparan salju yang membentang luas dan sangat langkah untuk dilihat). Menurutku, Korea University pantas untuk dimasukkan ke dalam itinerary perjalanan jika kita mengunjungi Korea. Tempat ini memang indah.


Seperti di Eropa





Di Atas Air Mancur di Tengah Lapangan Utama


Beberapa saat setelah itu kami melihat jika Prof. Hong sudah menunggu di depan gerbang utama Korea University di mana pilar-pilar indah menjulang tinggi dan terlihat indah. Prof. Hong mengajak kami untuk pergi makan siang dengan menaiki taksi. Beliau menanyakan makanan apa saja yang sudah kami coba selama di Korea dan beliau sangat ingin mengajak kami untuk makan Kalbi. Kalbi sendiri merupakan salah satu makanan termahal dan paling diminati di Korea. Kami jelas tidak pernah menolak jika diajak makan enak.

Bersama Prof. Hong di Gerbang Utama Korea University

Restoran yang kami tuju jelas sangat dekat dengan Korea University terlebih Prof. Hong tahu jika kami harus kembali ke universitas sebelum jam satu. Restoran yang kami datangi terlihat masih mengusung unsur tradisional dan menurut Prof. Hong, restoran tersebut merupakan salah satu restoran paling terkenal dengan menu andalan kalbinya.

Kalbi merupakan menu makanan di mana daging sapi dibakar langsung di tungku pembakaran yang terdapat di meja. Side dish-nya jelas banyak sekali. Aku sangat suka makan kalbi dengan menggulungnya pada daun salad lalu dicampurkan dengan berbagai jenis bumbu dan saus kemudian dimakan bersamaan. Saat itu juga pertama kalinya kami memakan mie dingin. Ini jelas salah satu makanan yang paling tidak kusukai karena mie ini sangat aneh rasanya. Bayangkan! Seumur hidup aku belum pernah memakan mie dengan kuah banyak dan hanya terdapat dua irisan daging sapi dengan mie panjang dan kenyal namun di tengah-tengahnya terdapat dua balok es batu! Wow! Konon mie dingin merupakan makanan favorite orang Korea di kala musim panas. Tapi lidah Indonesiaku sama sekali tidak cocok dengan makanan ini. Terlebih menurutku rasa mie dingin hambar seolah tidak mengunakan garam atau penyedap makanan.

Namun karena Prof.Hong ingin kami mencoba semua makanan yang belum pernah kami santap di Korea, makanya dia menginginkan kami mencoba mie dingin.

Mie Dingin yang Sayangnya Tidak Cocok di Lidahku

Seharusnya Makanan ini Disediakan di Saat Musim Panas

Kalbi. Jelas Makanan ini ENAK BANGET

Side Dish Makanan Korea Memang Banyak!

Bersama Prof. Hong

Setelah kenyang dan mengobrol banyak dengan Prof. Hong, akhirnya kami diantarkan kembali menuju Korea University. Kami mengucapkan salam perpisahan dan sangat berharap bisa bertemu lagi dengan beliua suatu saat nanti. Setelah itu kami memulai menjajaki hari pertama kami di konferensi KMUN.

***SEPUTAR KAMPUS DI KOREA***
Di Korea, terdapat tiga perguruan tinggi terfavorit dan menduduki peringkat tertinggi (ketiganya dianggap setara). Ketiganya adalah Seoul University, Korea University, dan Yonsei University.

Untuk sampai di tempat konferensi, kami harus berjalan dengan hati-hati melewati tumpukkan es yang menggunung dan licin. Di lobi gedung, kami sudah bisa melihat banyak sekali peserta yang berkumpul untuk melakukan daftar ulang peserta. Setelah mendaftar ulang dan mendapatkan name tag, kami segera menuju sebuah kelas yang dijadikan ruang untuk delegasi ECOSOC karena acara pembukaan akan segera dimulai.

Batu di Dekat Venue Acara



Name Tag KMUN

Salah satu kelemahan di KMUN menurutku adalah peserta yang banyak tidak diimbangi dengan gedung pelaksanaan yang memadai. Hal ini disebabkan kegiatan KMUN dilaksanakan di Gedung Pembelajaran Bahasa Korea Untuk Penutur Asing sehingga aula yang dijadikan sebagai venue untuk acara pembukaan tidak bisa menampung semua delegasi yang ikut. Oleh karena itu, hanya delegasi SMA yang diizinkan untuk masuk ke dalam aula dan mengikuti acara pembukaan secara langsung sementara beberapa delegasi lain harus puas mengikuti acara pembukaan dari layar projector di ruang kelas yang diproyeksikan secara langsung dari aula tempat dilaksanakan acara pembukaan.

Pukul 2 siang acara pembukaan dimulai dan berlangsung lancar. Kemudian kami mulai memasuki ruang tempat konferensi akan dimulai di mana semua delegasi sudah disediakan ruangan khusus sesuai komitenya masing-masing.

Ruangan kelas di Korea University menurutku sangat indah. Semuanya difasilitasi dengan layar proyektor yang bagus dan berkesan modern. Di dalam ruangan, semua bangku sudah diatur berdasarkan abjad nama negara yang akan diwakili oleh setiap delegasi. Di setiap meja sudah dilengkapi papan nama dan bendera negara yang diwakili.

Jujur selama mengikuti konfrensi KMUN ini, aku sangat tidak siap dengan semuanya, terlebih dengan position paper yang ditulis hanya dalam waktu satu hari dan minimnya informasi mengenai kegiatan MUN. Dikarenakan hari itu adalah hari pertama, maka setelah dilakukan pengenalan peraturan dan latihan bagaimana kegiatan MUN berlansung, kami memulai session pertama dan selesai pukul 7 malam.

***TERTIB WAKTU DI KOREA***
Di Korea, jam karet tidak berlaku. Orang Korea
sangat menghargai waktu dan selama konferensi berlangsung,
semua berlangsung TEPAT WAKTU!
Tidak meleset sedetikpun.

Di hari pertama kami sudah mulai berteman dengan anggota sesama delegasi di ECOSOC. Di komite kami, delegasinya didominasi oleh peserta asal Korea. Kami bertemu dengan sembilan mahasiswa asal Indonesia, satu mahasiswa dari Hongkong, dan satu lagi peserta dari Finlandia yang sedang menempuh pendidikan di Korea University.


Malam itu setelah acara bubar, aku dan Dephie memutuskan untuk makan malam bersama dengan teman baru kami dari Hongkong yang bernama Christy. Dia merupakan salah satu mahasiswa yang cantik dan cerdas. Christy mengikuti KMUN bersama dua orang temannya, yakni Leo dan Shandy di mana keduanya sama-sama tergabung di program Experienced. Namun sangat disayangkan Leo tidak bisa makan malam bersama kami.

Tidak jauh dari Korea University, kami menemukan sebuah tempat makan yang sederhana tapi terlihat enak. Makanan yang kami makan sama persis dengan makanan kami malam sebelumnya bersama Hyeong dan keluarganya. Sebagaian besar makanan di Korea dimasak lansung di atas meja dan orang Korea sangat suka memasak makanannya sambil mengobrol dan meneguk soju. Namun untuk pengunjung atau turis, si pemilik restoran akan tahu dan mereka akan membantu kita dalam memasak.

Makan Malam Bersama Christy dan Shandy

Kreasi Pemilik Restoran

Kami mengobrol hingga malam bersama Christy dan Shandy. Kami sangat senang bertemu mereka karena keduanya begitu bersahabat. Setelah malam mulai larut, kami memutuskan untuk pulang kembali ke hostel karena besok pagi committee session pertama akan berlangsung pukul 10 pagi—TEPAT PUKUL 10.

Hari pertama kami selama KMUN ternyata tidak begitu buruk. Mengikuti konferensi internasional seperti ini jelas banyak memberikan kesempatan bagi kita untuk memperbanyak teman dari berbagai negara—dan kami suka hal itu.

***RINCIAN PENGELUARAN***
Makan Malam: 100 ribu rupiah






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar